Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pagi itu. Udara dingin menempel di kulit, menusuk tapi segar. Mahesa melangkah paling depan, matanya mengawasi dan memeriksa jalur. Di belakangnya ada Satya, Haikal, dan Beni yang berjalan beriringan membawa carrier masing-masing.

“Pos satu lumayan landai, tapi habis itu mulai nanjak. Siap-siap aja, guys,” ujar Mahesa sambil

menoleh memastikan semua aman.

Beni tersenyum, berusaha menutupi kegelisahannya. “Kalau aku ketinggalan, jangan pura-pura

enggak lihat, ya.” Ujar Beni dengan Haikal menjawab sambil menahan sedikit tawa. “Tenang aja, Ben. Kita naik bareng ya jelas turun bareng.”

Satya menyahut, “tuh dengerin apa kata haikal. Takutan amat sih lu, Ben. HAHAHA.”

Tawa Satya lantang, diikuti tawa Haikal dan Mahesa. Beni ikut tertawa, tetapi di dalam hati ia merasa omongan Satya ada benarnya. Ia adalah yang paling jarang mendaki di antara mereka, dan rasa cemas itu terus menggerogoti dirinya selama perjalanan.

Perjalanan awal terasa ringan. Jalur masih ramah, suara burung dan gemericik air jadi teman. Mahesa beberapa kali memberi aba-aba kalau ada akar atau batu licin. Namun begitu masuk

area berbatu yang terbuka, matahari mulai terasa membakar. Batu-batu vulkanik memantulkan

panas, membuat napas Beni cepat habis. Langkahnya melambat, napasnya tersengal. Jaraknya dengan teman-temannya perlahan melebar.

Satya melirik ke belakang dan melihat Beni yang mulai tertinggal. “Ben, kalau mau, sebagian tas kamu aku bawain.”

Beni menggeleng. “Makasih Sat tawarannya, tapi ga dulu deh… aku masih kuat.” Beni terlalu

gengsi untuk mengakui bahwa ia sudah lelah, takut dianggap lemah oleh teman-temannya.

Meski begitu, Mahesa memberi isyarat berhenti. “Kita istirahat sebentar. Minum, isi tenaga

sebelum lanjut ke rintangan berikutnya.”

Mereka pun istirahat di gazebo pos 2, Haikal membuka termos dan menuang teh hangat ke gelas kecil. “Nih, biar tenggorokan enggak kering,” katanya sambil menyerahkan ke Beni.

Beni meneguk pelan. “Wih makasih Kal… Maaf, jadi ngerepotin.”

Satya menepuk bahunya. “Nggak ada yang ngerepotin di sini. Kita kan tim.” ujar Satya membuat Beni menjadi lebih semangat.

Mahesa menimpali, “HAHA iya bener tuh, kita tim. Jadi jangan saling sungkan satu sama lain.”

Semua anggota menjawab, “Siap, Kapten!”

Diikuti tawa mereka yang cukup lantang. Momen itu meyakinkan Beni, setidaknya untuk saat

ini, bahwa ia tidak sendirian.

Setelah istirahat, jalur semakin menanjak. Akar-akar pohon jadi pijakan, tanah licin sisa hujan semalam menambah sulit langkah. Kabut mulai turun, menutup pandangan beberapa meter ke depan. Beni berusaha keras menahan rasa lelahnya, terdorong oleh semangat teman-temannya. Ia tidak ingin lagi menjadi yang tertinggal.

Hampir sampai pos tiga, tiba-tiba kaki Haikal terperosok ke celah batu. Ia meringis. “Ah sialan,

pergelangan kakiku sakit.”

Mahesa langsung berjongkok, memeriksa. Melihat Haikal yang kesakitan membuat Beni terkejut. Tiba-tiba rasa lelahnya hilang, berganti dengan keinginan untuk membantu. “Sepertinya terkilir ringan. Ben, ambil perban di tasku.”

Beni bergerak cepat. Satya mencari batang kayu untuk dijadikan tongkat sebagai tumpuan Haikal berjalan. Mereka membalut kaki Haikal dengan hati-hati.

“Kita pelan-pelan ke pos tiga, enggak usah buru-buru,” kata Mahesa meyakinkan timnya.

Formasi berubah: Mahesa dan Satya bergantian membantu Haikal berjalan, sementara Beni, tanpa disuruh, mengambil carrier Haikal dan membawanya. Mereka berjalan pelan pelan, tapi tak ada satu pun yang mengeluh. Beni akhirnya merasakan arti sejati dari ‘tim’. Ia bukan lagi anggota yang lemah, tapi bagian penting yang saling membantu.

Sesampainya di pos tiga, mereka memutuskan mendirikan tenda lebih awal. Langit memerah tanda sore, suhu mulai turun. Haikal duduk sambil meluruskan kaki. “Maaf, gara-gara aku, kita enggak bisa lanjut hari ini.”

Mahesa menatapnya serius. “Kal, puncak enggak akan pindah. Yang penting kita semua aman.”

Satya ikut menimpali, “Kalau dipaksain malah bisa tambah parah, kasian lu nya ntar… Santai aja.”

Beni menambahkan sambil membuka kompor portable, “lagipula, ini kesempatan makan mie rebus lebih cepat.” Beni tidak lagi terdengar cemas, melainkan penuh semangat, mencairkan suasana.

Malamnya angin bertiup kencang. Tenda bergoyang, suara kainnya berderik. Haikal yang sulit tidur melihat Satya bangun, memeriksa pasak tenda.

“Kamu enggak tidur?” tanya Haikal pelan.

Satya tersenyum tipis. “Kalau tenda lepas, kita semua bisa basah kuyup. Mending pastiin aman

dulu.”

Haikal hanya mengangguk. Dalam hati ia tahu, di gunung, rasa peduli sering datang tanpa diminta.

Pagi berikutnya, cuaca cerah. Mahesa mengusulkan melanjutkan perjalanan ke puncak, dengan syarat jika Haikal merasa sakit, mereka akan kembali. Jalur menuju puncak cukup sempit, diapit jurang dan batu licin. Mereka saling mengingatkan tiap langkah. Mahesa dan Satya berjalan di depan, memastikan jalur aman. Haikal berada di tengah, dengan Beni di belakangnya, siap membantu jika terjadi sesuatu.

Di satu tanjakan curam, kaki Beni terpeleset. “Woi!” teriaknya kaget.

Untung Haikal sigap menarik tasnya sebelum ia kehilangan keseimbangan. “Nyaris, Ben,” kata Haikal sambil tersenyum lega. Beni menatap Haikal, dan di matanya ada rasa terima kasih yang

mendalam.

Beni membalas senyum. “Gantian kamu yang nolongin aku.”

Awan tipis mengambang di atas kawah saat mereka tiba di puncak. Warna hijau toska air kawah bercampur dengan bau belerang yang menusuk. Semua rasa lelah seakan hilang.

“Worth it banget,” ucap Satya sambil mengabadikan momen.

Mereka berfoto berempat, berdiri sejajar, tanpa ada yang lebih depan atau belakang. Beni berdiri di antara mereka, merasa setara, tidak lagi merasa menjadi yang terlemah.

Perjalanan turun dimulai siang itu. Jalur licin karena embun, mereka harus ekstra hati-hati. Di tengah perjalanan, hujan deras tiba-tiba turun. Ponco dikeluarkan, suara hujan di dedaunan bercampur dengan suara petir di kejauhan.

“Kita berhenti di situ dulu, tunggu agak reda,” ujar Mahesa menunjuk batu besar yang bisa jadi pelindung.

Sambil menunggu, Beni mengeluh lapar. Satya membuka roti tawar dan membagikannya. Haikal yang duduk di sampingnya tersenyum, “di gunung, roti tawar bisa terasa kayak makanan hotel bintang lima.”

Hujan tak kunjung reda, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan pelan-pelan. Tanah becek membuat mereka beberapa kali hampir terpeleset. Meskipun lelah, tidak ada yang marah atau mengeluh. Mereka tahu, ini adalah bagian dari perjalanan.

Di satu turunan, kabut turun tebal hingga jarak pandang hanya dua meter. Jalur bercabang, dan

Mahesa sempat ragu arah mana yang benar.

“Kiri apa kanan?” tanya Satya.

Mahesa diam sebentar, mencoba mengingat. Tapi kabut menutupi semua tanda.

Haikal mengeluarkan kompas dari saku. “Kalau lihat peta, kita harus ambil kanan.”

Mereka sepakat ikut arahan kompas. Beberapa menit berjalan, suara aliran sungai terdengar, tanda mereka di jalur yang tepat. Semua menghela napas lega.

Menjelang sore, mereka sampai di basecamp dengan baju setengah basah. Warung kecil di dekat parkiran jadi tempat singgah. Kopi panas dan gorengan jadi menu wajib.

Haikal menatap teman-temannya. “Gue ngerti sekarang. Naik gunung itu bukan soal puncak, tapi soal kita enggak ninggalin siapa pun di belakang.”

Beni mengangkat gelasnya. “Naik bareng, turun bareng.” Ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan, bukan lagi dengan keraguan.

“Naik bareng, turun bareng,” jawab mereka serempak dengan penuh semangat.

Di luar, hujan kembali turun, tapi di meja kecil itu, empat orang ini tahu bahwa perjalanan mereka bukan cuma tentang Kelud. Ini tentang rasa percaya yang tumbuh di setiap langkah, dan persahabatan yang semakin kokoh karena tantangan yang mereka lewati bersama.

━TAMAT━