Cerpen

If You Love Somebody, You Gotta Set Them Free

Bagi sebagian orang, masa SMA adalah tentang kenangan manis. Tapi bagi Hagia Shafeeya, kelas 12 adalah tentang strategi. Tentang perjuangan, kompetisi, dan tekanan. Ia bukan cuma siswi ranking atas sejak kelas 10, nama Hagia nyaris selalu diumumkan saat pembagian piala lomba, dari olimpiade sains, debat, hingga dinobatkan sebagai duta pendidikan 2021. Nilainya stabil, rekam jejaknya bersih, dan impiannya jelas: masuk universitas terbaik melalui jalur SNBP. 

Hagia memiliki paras cantik, senyum ramah, dan sorot mata cerdas tajam tapi tenang. Ia lahir dari keluarga terhormat, anak semata wayang dari pasangan seorang dosen dan abdi negara. Tapi status itu tak pernah membuatnya jumawa. Ia justru dikenal sangat ramah dengan  siapapun. 

Tapi semakin dekat dengan masa kelulusan, hidup tak lagi sejalur lurus seperti grafik rapornya. Termasuk soal sahabatnya, Kaniya Amirah. Dan… Rangga Raharja. 

 * Kriiingggg… 

Bel tanda pulang baru saja terdengar di seluruh penjuru sekolah.  

Suara ribut-ribut kursi digeser, pintu dibuka, dan siswa-siswi berebut keluar kelas terdengar  seperti biasa. Suasana kelas pelan-pelan mulai sepi. Para siswa SMA Bina Bangsa bergegas  untuk pulang setelah seharian menghadapi aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran. Tapi  

Hagia tetap duduk di bangkunya, merapikan catatan. Di seberangnya, Kaniya juga belum  beranjak.

“Hayya, belajar bareng yuk ntar sore. Kita review Biologi dulu sebelum try out minggu depan,” ucap Kaniya sambil memasukkan buku ke dalam tas. 

Hagia tersenyum kecil, agak ragu. “Gue… nggak bisa, Ni. Gue udah ada janji sama Rangga buat  belajar bareng sama anak-anak OSIS juga.” 

Kaniya berhenti merapikan barang. Pandangannya mengarah ke Hagia, datar. Suasana kelas  mulai sepi, hanya tersisa beberapa anak yang masih mengobrol sambil beres-beres. “Lagi-lagi sama Rangga,” gumam Kaniya. 

“Ya… kita mau bahas soal-soal juga, kok. Ga nge-date juga,” jawab Hagia cepat. “Tapi lo sadar nggak sih, Hay? Sejak lo pacaran sama Rangga, lo itu berubah. Setiap kali kita  rencanain sesuatu buat SNBT, lo selalu bilang ‘liat nanti’, terus akhirnya lo sibuk sama Rangga.” Hagia terdiam. Tak siap dengan arah pembicaraan yang mendadak menegang. “Apa salah kalau gue pengen belajar sama lo? Kita dulu bareng-bareng ngerencanain ini semua  loh, Hay. Mau masuk univ bareng, ngelewatin SNBP bareng, semua kita rancang bareng! Tapi  sekarang, mana buktinya?” 

“Kan gue nggak ninggalin lo juga, Nia. Kita cuma beda cara belajar aja…” 

“Bukan soal cara belajarnya, tapi prioritas lo berubah. Dan… jujur ya, kadang gue ngerasa kayak… 

gue bukan siapa-siapa lagi buat lo semenjak ada Rangga di hidup lo.” 

“Stop salahin Rangga terus Nia. Gue bisa sampai di titik ini karena support dari dia juga. Lagian  Rangga anak organisasi, pinter, baik, banyak bantuin gue. Rangga bawa banyak pengaruh positif  buat gue. Ada apa sih, Kan? Akhir-akhir ini lo beda banget? Lo selalu mengekang hubungan gue  sama Rangga. Lo selalu“ 

“KARENA GUE SUKA SAMA RANGGA HAY. Gue suka sama cowo lo.” 

Hagia menatap Kaniya. Hatinya mencelos. Ingin marah, tapi juga sedih. 

“Gue suka sama dia dari kelas 11. Tapi dia gak pernah lihat gue. Terus… tiba-tiba lo dateng, lo deket sama dia, sekarang kalian jadian… dan gue gak bisa ngapa-ngapain, Hayya” ucap Kaniya,  suaranya pecah. 

Hagia mematung. 

Hatinya campur aduk. Marah, kecewa, sedih. Tapi juga bersalah. Harusnya dia tahu. Seharusnya dia  sadar dari semua kode yang Kaniya tunjukkan selama ini. 

“Kenapa lo gak pernah bilang Ni?” 

“Karena lo temen gue, Hay. Sahabat gue. Gue pikir bisa ikhlas. Tapi ternyata… gak segampang  itu.” 

Air mata mengalir di pipi Kaniya, cepat ia usap dengan kasar. Hagia hanya bisa diam. Kata-kata  tak lagi mudah keluar. 

“Salah gue ya, kalau gue pengen lo fokus ke cita-cita lo? Salah gue kalau gue gak mau lo ke distract sama cinta yang nggak penting sekarang?” Kaniya mengangkat suaranya. “Lo gak punya hak buat nentuin apa yang penting buat gue Ni!” sahut Hagia, akhirnya. Mereka saling menatap. Dada sama-sama sesak. Pertengkaran yang tak pernah mereka bayangkan akan terjadi, meledak begitu saja. 

“Gue gak pernah bermaksud nyakitin lo, Ni…” ucap Hagia lebih pelan. 

“Tapi gue udah terlanjur sakit Hay,” potong Kaniya cepat. “Dan sekarang… mungkin kita emang  udah gak bisa kayak dulu lagi.” 

Suara bel pulang sekolah kembali berbunyi nyaring, sebagai peringatan bagi siswa yang masih  berada di area sekolah. Suara itu biasanya jadi pertanda kebebasan. Tapi kali ini… terasa seperti  penghabisan. 

Sejak pertengkarannya dengan Kaniya di kantin waktu itu, Hagia merasa seperti ada yang kosong di hari-harinya. Meski masih aktif menjalani organisasi, masih semangat belajar, dan masih  menggenggam erat tangan Rangga… tetap ada bagian dari dirinya yang tidak utuh. Tapi Hagia mencoba menepis itu semua. 

“Gue punya ayah, punya bunda. Gue punya Rangga. Gue punya mimpi. Gue harus kuat,” katanya  pada dirinya sendiri. 

Hari pengumuman SNBP tiba. 

Di kamarnya yang penuh coretan sticky note motivasi, Hagia duduk di depan laptop. Jari-jari  tangannya gemetar saat menekan tombol Enter. Ia menatap layar, jantungnya berdegup begitu 

kencang. 

Satu detik. Dua detik. 

Layar merah. 

“Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SNBP 2023” 

Matanya kosong. Dunianya seakan runtuh. 

Namun Hagia menolak menyerah. Ia kembali belajar keras untuk SNBT. Rangga juga tetap  mendampinginya, mencoba menjadi penenang sekaligus penyemangat. Tapi hari demi hari, Hagia  mulai terlihat lelah. Matanya sering bengkak. Jam tidurnya kacau. Dan di balik senyum tipisnya, ia  menyimpan ketakutan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. 

Dan tiba hari pengumuman SNBT. 

Kembali Hagia duduk di depan laptop, kali ini lebih siap, atau lebih tepatnya, sudah pasrah. Hasilnya: gagal. 

Bukan cuma gagal. Tapi hancur. 

Hagia menutup laptopnya pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia menangis.  Terisak. Bukan tangisan cengeng, tapi tangisan dari hati yang benar-benar hancur. Semua prestasi, semua lomba, semua rapor penuh nilai sempurna, apa gunanya jika ujungnya seperti ini? 

Hagia menangis di pelukan ibunya malam itu. Ia mencurahkan semuanya. Tentang Kaniya.  Tentang Rangga. Tentang kegagalannya. 

Tapi, orang tuanya selalu mendengar, selalu mengerti, tidak pernah menghakimi. 

“Prestasi kamu nggak pernah sia-sia, Hayya. Gagal itu cuma jalan memutar. Tapi kamu belum  berhenti jalan, kan?” ucap ayahnya lembut sembari mengusap pelan surai lembut milik anaknya. “Kaniya juga nggak sepenuhnya salah, sayang. Mungkin ada benarnya juga dia. Nia gak mau kalau sahabatnya ini jadi ga fokus sama belajarnya. Tapi kamu juga nggak salah, sayang. Usaha kamu udah luar biasa. 

Ayah sama Bunda selalu bangga sama kamu, nak.” sambung ibunya sambil mengusap rambutnya. “Masalah kamu sama Rangga. Ayah serahkan semua keputusan sama kamu Hayya. Ayah juga gak  ngelarang kamu buat deket sama dia lagi. Itu semua udah jadi hak dan tanggung jawab kamu  terhadap hidup kamu. Kita percaya sama kamu Hayya.” tutur ayahnya memberi sedikit wejangan  untuk Hayya. 

“Makasih Ayah. Makasih bunda. Makasih karena udah selalu ngertiin Hayya.” Malam itu, Hagia  merasa disentuh oleh kasih sayang yang paling tulus. Ia sadar, ini bukan akhir, ini awal dari jalan  lain. 

Keesokan harinya, Hagia membuka laptopnya lagi. 

Bukan untuk menangis. Tapi untuk riset, Beasiswa Luar Negeri untuk Sarjana. Mulai hari itu, ia belajar siang dan malam. Mengikuti webinar. Konsultasi dengan alumni. Belajar  IELTS. Memperbaiki CV, membuat motivation letter, hingga latihan wawancara. Semuanya ia jalani dengan semangat yang hampir gila. Rangga perlahan merasa dirinya tidak lagi jadi prioritas.

Sampai suatu hari, Hagia bicara: 

 *Flashback 

Di taman belakang sekolah, sore hari. Langit jingga. Suasana sunyi, hanya suara angin dan  dedaunan. Hagia duduk di bangku kayu, Rangga duduk di sebelahnya. Mereka diam cukup lama  sebelum Hagia akhirnya bicara, pelan, tapi tegas “Rangga…” 

“Hmm?” jawab Rangga lembut. 

Hagia menatap lurus ke depan “Gue pernah baca satu kutipan… katanya, kadang kita harus berani melepaskan orang yang kita sayang, bukan karena kita berhenti mencintai, tapi karena kita  sadar, kita dan dia belum tumbuh cukup untuk saling menjaga, bukan saling menyakiti.” 

Rangga menoleh, sedikit terkejut, tapi tak menyela. 

Hagia memberanikan melanjutkan kalimatnya dengan suara bergetar, tapi tetap tenang, “Gue  masih sayang sama lo, Rangga. Sayangg banget. Tapi semakin ke sini… gue sadar, cinta itu gak cukup kalau kita gak berkembang. Gue butuh ruang buat bener-bener jadi diri gue. Dan lo juga.” 

“Tapi kita bisa berkembang bareng, Hayya…” 

Hagia tersenyum kecil, sedih “Gue juga pengennya gitu. Tapi lo tahu kan, akhir-akhir ini kita makin sering salah paham, makin banyak luka kecil yang nggak pernah kita obatin? Karena kita lagi tumbuh, dan tumbuh itu nggak selalu selaras.” 

Diam. Rangga menunduk. 

“Gue gak mau hubungan ini jadi alasan gue berhenti berlari. Dan gue juga gak mau jadi alasan lo  kehilangan arah. Kita sama-sama punya mimpi besar. Dan… kadang, cinta yang dewasa itu justru  tahu kapan harus mundur untuk saling memberi ruang,” lanjut Hagia. 

Rangga dengan suara pelan “Jadi ini… akhir?” 

Hagia menatap mata Rangga, lembut “Gue lebih suka nyebut ini sebagai… jeda. Bukan akhir.  Karena gue percaya, kalau emang kita ditakdirkan, nanti kita bakal ketemu lagi. Tapi kali ini,  sebagai dua manusia yang utuh. Yang nggak saling bergantung, tapi saling menguatkan.” 

“Gue bakal nunggu,” yakin Rangga dengan suara berat, karena sebenarnya Hagia yakin Rangga  juga sedang berusaha pura-pura kuat untuk Hagia. 

Hagia tersenyum sambil menahan air mata “Jangan nunggu, Rangga. Jalan terus. Bangun versi  terbaik dari diri lo. Karena kalau suatu hari kita bertemu lagi, gue pengen kita saling tatap tanpa luka… tapi dengan rasa yang jauh lebih dewasa dan sadar, bahwa kita akhirnya bisa saling  memiliki tanpa saling kehilangan diri.” 

Rangga mengangguk pelan. Ia tidak marah. Ia paham. Mungkin Hagia bukan lagi gadis SMA  biasa. Ia berubah, dan perubahan itu bukan sesuatu yang bisa ia ikuti. Tetapi, Rangga sangat  bangga dengan perempuannya. Rasa sayangnya pun masih tetap sama. Hanya saja, saat ini  hanya bisa ia wujudkan melalui doa-doa yang ia panjatkan untuk perempuan yang sudah terlepas  dari pelukannya. “I love you, but I’m letting you go Hayya. Terbang setinggi mungkin. Kejar semua mimpi yang selalu lo ceritain ke gue dulu. Lo harus berhasil… biar jarak ini ada artinya. Tapi jangan pernah paksa diri lo buat jadi sempurna, cukup jadi versi terbaik dari diri lo sendiri. Kalau nanti yang ada di depan bikin lo khawatir, atau masa lalu bikin lo takut, lihat ke Atas Hay. Lo juga boleh balik ke gue, karena sejauh apapun lo pergi, gue tetap di sini. Buat lo.”  

Selamat berjauhan manusia favorit. 

Di waktu yang berbeda, Hagia juga mengirim pesan kepada Kaniya. Singkat, tapi penuh makna.  “Gue minta maaf ya. Dan makasih juga. Lo bener soal banyak hal. Gue harap suatu hari kita bisa  ngobrol kayak dulu lagi.” 

Butuh waktu, tapi Kaniya akhirnya membalas. 

“Gue juga minta maaf. Tapi gue bangga sama lo, Hayya.”  

Sedikit demi sedikit, luka-luka lama mulai sembuh. 

Setahun kemudian. 

Sebuah email dari KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Technology) masuk ke inbox  Hagia. 

“Congratulations! You’ve been accepted…” 

Hagia menutup mulutnya. Tangisnya kembali pecah. Kali ini bukan karena gagal, tapi karena  berhasil. 

Ia terbang ke Korea Selatan dengan beasiswa penuh. Tinggal di asrama, belajar keras, berteman  dengan mahasiswa dari berbagai negara. Awalnya sulit, bahasa, budaya, makanan, tapi Hagia  selalu mengingat pesan ayahnya “Kamu belum berhenti jalan, kan?” 

Di sela-sela kuliah, Hagia memutuskan untuk membuat konten. Ia membagikan tips beasiswa,  culture shock selama ia berada di negara orang, atau hanya sekedar mengunggah daily vlog  sebagai mahasiswa Korea, sampai pengalaman magang di salah satu lab canggih di Seoul.  Tetapi, videonya melejit. Bahkan sudah ditonton jutaan kali di salah satu platform digital. Bukan  karena sensasi, tapi karena tulus dan berguna. 

Dari hasil kontennya, Hagia tidak menggunakannya untuk liburan mewah atau membeli barang barang branded selayaknya pemuda seusianya. Ia memulai proyek kecil, membangun sekolah di  daerah pelosok Indonesia. Ia juga aktif menjadi volunteer dan membuka donasi untuk korban  bencana di berbagai daerah.

 *POV Hagia 

Suatu malam, aku membuka kembali salah satu videoku yang sempat viral. Bukan karena ingin  pamer, aku hanya ingin mengingat betapa jauh aku telah melangkah. 

“Gue gagal SNBP. Gagal SNBT. Tapi gak gagal jadi manusia. Kita gak harus hebat dari awal. Yang  penting kita gak nyerah. because we don’t need to wait for perfection to take a step, but take a  step towards perfection.” salah satu prinsipku yang membuat aku masih bertahan sampai detik  ini. Aku membaca komentar yang masuk. Beberapa dari orang yang bernasib sama. Beberapa  lagi dari siswa yang baru akan berjuang. Banyak yang bilang mereka semangat lagi karena nonton  ceritaku. hahaha,, senang rasanya bisa menjadi motivasi untuk orang lain. Saat itu, aku  tersenyum… lalu menangis. Tapi kali ini, bukan karena sedih. Tapi karena aku tahu satu hal: Bahwa berdiri di kaki sendiri, meski kadang terasa sepi, adalah sesuatu yang layak dibanggakan.  Karena di sinilah aku tumbuh, aku berkembang. Dan aku akan terus berdiri. Untuk mimpi-mimpi yang belum selesai. Untuk orang-orang yang masih berjuang. Dan untuk aku,  yang pernah nyaris menyerah… tapi memilih bangkit. 

━TAMAT━