a man sitting on a window sill in the dark

Konon, di balik air terjun yang indah terdapat sebuah lembah tersembunyi. Orang-orang
dahulu menyebutnya Lembah Surga, karena di sana tumbuh bunga langka yang sangat indah
bernama Middlemist Red. Bunga itu dipercaya mampu menyembuhkan segala penyakit.
Sayangnya, bunga tersebut dijaga oleh seekor naga yang ganas dan tak pernah membiarkan
siapa pun mendekat.


“Aku pasti bisa menemukan Middlemist Red. Aku yakin itu,” Joya bersikeras
meyakinkan dirinya sendiri bahwa pilihannya benar. Semua ini demi kesembuhan ibunya, apa
pun rintangan yang harus ia hadapi, termasuk melawan sang naga.


Joya adalah seorang gadis pemberani yang tak takut pada apa pun. Namun, ada satu hal
yang benar-benar ia takuti: kehilangan ibunya. Ibu Joya telah sakit selama dua tahun. Selama
itu pula Joya harus membagi waktunya antara sekolah dan mencari upah tambahan. Ia bekerja
membantu tetangga, mengangkat air, membersihkan halaman, atau apa pun yang bisa
menghasilkan sedikit uang untuk membeli obat.


Ia tak gentar meski sering diejek teman-temannya. Saat anak-anak lain pergi bermain
sepulang sekolah, Joya justru sibuk bekerja. Ia lelah, tetapi tak pernah mengeluh. Baginya,
kebahagiaan ibunya jauh lebih penting daripada kesenangan sesaat.
Matahari menyingsing, cahaya lembutnya menyinari bumi. Pagi telah kembali,
membawa harapan baru bagi Joya. Seperti biasa, ia harus membuatkan bubur untuk ibunya. Ia
menyibakkan selimut, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum
memulai aktivitas.


Sebelum memasak, Joya berniat menengok keadaan ibunya. Ia mengetuk pintu kamar
dengan pelan. Namun, saat pintu terbuka, bau anyir langsung menyeruak menusuk
penciumannya. Tubuh ibunya tergeletak di lantai, bersimbah darah yang keluar dari mulutnya.
“Ibu!” teriak Joya panik.


Dengan gemetar, ia berlari keluar rumah meminta bantuan tetangga. Beberapa orang
datang dan membantu mengangkat ibunya ke atas kasur. Setelah memastikan ada yang
menjaga, Joya segera bergegas menemui tabib tua di desa sebelah.


Ia menunggang kudanya secepat mungkin, angin pagi menerpa wajahnya yang basah
oleh air mata. Setibanya di rumah tabib tua, ia memohon dengan suara bergetar agar sang
tabib mau menolong ibunya.


Namun, tabib tua itu hanya menggeleng pelan. “Carilah tabib yang lebih pintar dariku.
Aku sudah tidak kuat lagi mengobati. Usia telah melemahkanku. Di desa dekat muara air ada
seorang tabib yang pengobatannya lebih mujarab,” katanya lirih.


Meski kecewa, Joya tidak menyerah. Ia kembali menggapai kudanya dan berangkat
menuju desa yang dimaksud. Setibanya di sana, ia bertanya kepada penduduk sekitar hingga
akhirnya menemukan rumah tabib muda itu, yang terletak tepat sebelum muara sungai.
“Inikah rumah tabib itu?” gumamnya pelan.


Ia mengetuk pintu. Seorang tabib muda keluar menyambutnya. Tanpa membuang waktu,
Joya langsung menjelaskan keadaan ibunya. Tabib itu menyetujui untuk membantu dan segera
ikut bersamanya.

Setelah memeriksa kondisi ibu Joya, sang tabib terdiam cukup lama. Joya menunggu
dengan dada bergemuruh, takut mendengar kabar buruk.


“Ibumu bisa diselamatkan hanya dengan satu hal,” ujar sang tabib akhirnya.


Hati Joya bergetar penuh harap. “Dengan apa?” tanyanya cepat.


Tabib itu menatapnya ragu sebelum menjawab, “Middlemist Red.” Seketika, hati Joya terasa sesak. Joya bimbang. Haruskah ia pergi ke Lembah Surga? Ia takut menghadapi naga yang
ganas. Namun, lebih menakutkan lagi membayangkan hidup tanpa ibunya. Ia tak mungkin
membiarkan ibunya pergi tanpa perjuangan.


Akhirnya, Joya memutuskan untuk berangkat. Ia menguatkan hati dan terus merapalkan
dalam batinnya, “Demi kesembuhan ibu.”


Ia menyiapkan bekal: sebuah peluit peninggalan mendiang ayahnya, roti kering, dan
sebilah pisau kecil untuk berjaga-jaga. Setelah berpamitan kepada tetangga yang menjaga
ibunya, Joya menunggang kudanya menuju lembah yang selama ini hanya ia dengar dalam
cerita.


Perjalanan itu tidak mudah. Ia harus melewati sungai berarus deras, jalan berlumpur
yang licin, dan hutan lebat yang dipenuhi suara-suara asing. Namun, tekadnya lebih kuat
daripada rasa takutnya. Ia tak akan kembali sebelum mendapatkan bunga itu.


Akhirnya, Joya tiba di bibir lembah. Kabut tebal menyambutnya, menghalangi
pandangan. Di kejauhan terdengar gemuruh air terjun. Ia tahu, ia hanya perlu menyusuri jalan
hingga menemukan mata air tempat naga tinggal.


Sadar bahwa ia tak mungkin mampu melawan sang naga, Joya memilih untuk memohon
izin.


Ia berdiri di tepi sungai dan berseru, “Wahai sang naga, izinkan aku mengambil bunga
Middlemist Red untuk ibuku yang sakit!”


Tanah di sekitarnya bergetar. Air sungai bergolak, lalu muncullah seekor naga besar dari
dalamnya. Sisiknya berkilau terkena cahaya matahari.


Naga itu tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Apakah kau sedang bercanda, gadis kecil?”
Joya beringsut mundur, tetapi tetap tegak berdiri. “Aku sungguh-sungguh memerlukan
bunga itu untuk kesembuhan ibuku,” katanya dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan.
Naga itu menatapnya tajam. “Bunga itu hanya akan mekar sepenuhnya bagi mereka
yang berhati tulus. Jika niatmu tidak sungguh-sungguh, bunga itu tak akan mekar.”
Joya mengangguk mantap. Ia yakin ketulusannya tak perlu diragukan.


Tanpa diduga, naga itu meluruskan tubuhnya, membentuk jembatan di atas sungai.
“Lewatlah,” katanya singkat.


Dengan hati-hati, Joya melintasi tubuh naga dan memasuki lembah. Pemandangan di
hadapannya membuatnya tertegun. Air terjun menjulang megah, dan hamparan bunga
Middlemist Red tumbuh indah di antara rerumputan hijau. Tempat itu benar-benar seperti
surga.

Ia melangkah mendekati salah satu bunga. Dengan perlahan, ia menyentuh kelopaknya.
Seketika, bunga itu mulai mekar, membuka kelopak demi kelopak hingga memperlihatkan
keindahannya yang sempurna.


Air mata Joya menetes. Ia memetik beberapa bunga dengan hati-hati, memastikan tak
merusak tanaman lainnya.


Setelah itu, ia kembali ke tepi sungai. “Terima kasih, Naga. Atas petunjukmu, aku bisa
menemukan bunga ini,” ucapnya tulus.


“Itu karena ketulusanmu sendiri,” jawab naga lembut. “Aku yakin ibumu akan sembuh.”
Sekali lagi naga itu membentuk jembatan, dan Joya melintasinya dengan selamat. Ia
menoleh ke belakang dan tersenyum sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Perjalanan kembali terasa lebih ringan. Seolah alam pun berpihak padanya. Tak lama
kemudian, ia telah sampai di desa dan langsung menuju rumah tabib.


Tabib itu segera meracik bunga Middlemist Red menjadi ramuan. Aroma harum
memenuhi ruangan kecil itu.


“Berikanlah ini kepada ibumu. Cepat atau lambat, kondisinya akan membaik,” ujar sang
tabib.


“Terima kasih,” jawab Joya dengan mata berbinar.


Sesampainya di rumah, ia segera menghampiri ibunya. Dengan penuh harap, ia
menyuapkan ramuan itu sendok demi sendok. Setelah ramuan habis, ia mengecup puncak
kepala ibunya.


“Selamat tidur, Ibu. Semoga besok ada kabar baik,” bisiknya. Malam itu Joya hampir tak bisa tidur. Ia terus berdoa dalam diam.


Pagi pun tiba dengan sinar hangat yang menyentuh wajahnya. Dengan jantung berdebar,
ia memasuki kamar ibunya. Ia terdiam, lalu menutup mulutnya menahan tangis haru.
Ibunya sudah bisa duduk dan menatapnya dengan senyum lemah.


“Joya…” panggil ibunya lirih.


Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipi Joya. Setelah perjuangannya selama dua
tahun, akhirnya keadaan ibunya membaik. Semua lelah, ejekan, dan ketakutan terbayar sudah.
Ia memeluk ibunya erat-erat. Dalam hati, ia bersyukur atas keberanian, ketulusan, dan
kegigihan yang telah membawanya sampai di titik ini.


Berkat doa dan usaha yang berjalan beriringan, Joya akhirnya mendapatkan apa yang ia
nantikan selama ini. Ia belajar bahwa ketulusan hati mampu membuka jalan, bahkan di tempat
yang paling mustahil sekalipun.


Begitu pula dengan kita. Selama doa dan usaha terus berjalan berdampingan, harapan
akan selalu menemukan jalannya. Entah hasilnya baik atau buruk, semuanya adalah bagian
dari warna-warni kehidupan yang mengajarkan arti perjuangan dan cinta yang sesungguhnya.

━TAMAT━