RITME KATA

Pelukan Nusantara
Puisi Karya ACHMAD GILANG KUSTYANTO

Dari Sabang yang menyambut mentari pertama,
Hingga Merauke yang memeluk senja terakhirnya.
Ragamu terdiri dari seribu bahasa,
Hatimu satu untuk semua yang setia.

Di bawah langit biru yang tak bertepi,
Sawah hijau menari dalam bisik pagi.
Aku merajut rinduku pada tanah ini,
Tempat darah dan doa, menjadi janji abadi.

Wahai Indonesia, nadi dan napasku,
Di setiap ombak dan gunung yang menjulang,
Aku berjanji setulus waktu,
Menjaga cintamu hingga akhir yang panjang.

Sabtu, 20 September 2025

Pantun Karya AISHA NAZIFA FAYI HASAN

Bunga melati di atas batu
Harum semerbak di pagi hari
Kediri terkenal sebagai Kota Tahu
Yaitu tahu yang enak sekali

Di alun-alun kota minum es blewah
Minumnya bareng ayah-bunda
Kota Kediri kaya akan sejarah
Banyak warisan sejarah yang perlu dijaga

Jalan-jalan ke Simpang Lima
Melihat orang bercanda tawa
Kota Kediri penuh dengan makna
Semoga aman, damai, dan sentosa

Sabtu, 27 September 2025

Bayangan yang Salah
Cerpen Karya ADIRA SANDRA DEWI

Gabriella Jayden Adhytama atau biasa dipanggil El adalah pemuda berusia 16 tahun. Kini ia telah memasuki masa remaja, waktu baginya untuk mencari jati diri serta pengalaman baru. El adalah pelajar yang  duduk di kelas sebelas SMA dan termasuk ke dalam jajaran siswa yang berprestasi. Namun, tanpa diketahui orang-orang, ternyata ia mengikuti suatu geng bernama Shadow Syndicate. Geng ini beranggotakan pelajar-pelajar remaja dan terkenal karena sering berkumpul dalam kegiatan yang menantang serta penuh risiko, seperti balap motor di jalanan. Tidak main-main, El tidak hanya menjadi anggota biasa, tetapi ia juga menjadi anggota inti dalam geng Shadow Syndicate. Geng ini adalah tempatnya melarikan diri dari kehidupan rumah yang terasa hampa. Papanya sibuk bekerja dan bahkan mamanya pun lebih fokus dan lebih sayang ke adik kecilnya sehingga El sering merasa seperti bayangan di rumahnya sendiri. 

Suatu malam yang lembab di musim penghujan, El dan anggota Shadow Syndicate lainnya berkumpul di markas, sebuah gudang kosong yang dindingnya dipenuhi coretan grafiti. Seperti biasa, anggota geng inti membawa minuman. Tetapi malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Haikal, salah satu anggota inti yang biasanya paling vokal menentang narkoba, justru membawa sebuah kresek hitam berisi permen-permen putih. 

“Ngapain, Kal, kamu bawa permen kesini? Tumben banget. Biasanya kan kamu anti banget sama permen-permen gini,” tanya Vian sambil tertawa geli, tangannya masih memegang botol bir setengah kosong. Lalu Haikal menjawab, “Coba aja, ini spesial.” Suara datarnya membuat bulu kuduk El berdiri. Salah satu teman El ada yang mengeluh mengantuk dan Haikal pun menawarkan permennya. Tanpa pikir panjang, temannya itu mengambil satu dan memakannya. El yang merasa aneh dengan permen yang dibawa Haikal memperhatikan dengan curiga, tetapi memilih untuk diam.  

Keesokan harinya pukul 06.45, El berpikir untuk ke markas gengnya karena ingin mengambil jaket kesayangannya yang ketinggalan.  Bau arak dan rokok masih menyengat di udara lembab gudang itu. Saat ia menyalakan lampu, dia melihat ada satu barang yang asing. Sesuatu di sudut membuatnya membeku. Sebuah suntikan bekas tergeletak di lantai berdebu, masih ada setetes cairan bening di ujungnya.

El yang penasaran akhirnya mendekati barang itu dan melihat Haikal dan teman-temannya yang lain seperti bergelagat aneh. El pikir mungkin mereka begitu karena minum-minum kemarin tetapi sepertinya tidak hanya karena itu. El pun bertanya kepada Haikal, “Kal, ngapain kamu disini? Diusir dari rumah lagi?”

Suara Haikal terdengar parau, matanya memerah dan pupilnya melebar tidak wajar. “El, lo tuh gak ngerti… ini satu-satunya cara biar gue gak merasa sendirian,” ujarnya sambil memegang suntikan itu dengan gemetar. El merasa dadanya sesak. Ia tahu bahwa Haikal sampai seperti ini karena orang tuanya terus bertengkar di rumah dan bahkan mereka lebih sering melampiaskan kemarahan kepadanya. Tapi El tidak menyangka semuanya akan sampai ke tahap ini.  

“Kal, itu narkoba! Lo tahu itu ilegal, kan? Bisa merusak hidup lo!!!!” El mencoba memperingatkan, tetapi Haikal hanya tertawa pahit.  

“Loh, lo pikir gue gak tahu? Tapi El, ini lebih baik daripada pulang ke rumah yang isinya cuma suara ribut sama barang pecah. Gue bener-bener capek, El.” El terdiam. Ia sendiri sebenarnya juga sering merasa tidak diinginkan. Papanya sibuk bekerja dan mamanya lebih sering menghabiskan waktu dengan adiknya yang masih kecil. Tetapi setidaknya, El tidak sampai senekat itu dan mencoba kabur dengan cara seperti ini.  

Keesokan harinya, El membolos sekolah. Ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dilihatnya di markas Shadow Syndicate. Geng yang dulu ia banggakan karena solidaritasnya, ternyata menyimpan rawa hitam di baliknya.  Saat ia berjalan sendirian di taman kota, ponselnya berdering. Muncul sebuah pesan dari mamanya, “El, kamu di mana? Papa khawatir.” El mengerutkan kening. ”Papa khawatir? Sejak kapan? Selama ini, Papa nggak peduli, bahkan nanyain kabar pun setahun cuma dua kali.” Tapi entah mengapa, pesan itu membuat dadanya berdesir.  

Malam itu, El memutuskan pulang lebih awal. Saat ia membuka pintu, ia melihat papanya duduk di sofa dengan wajah lelah. “El, kemana saja kamu? Kami mencarimu,” kata papanya, suaranya terdengar berat.  El ingin menjawab kasar, tetapi mengurungkan niatnya saat ia melihat ada bekas air mata di wajah papanya. Mamanya keluar dari kamar dengan mata sembab.  “Kami… kami cuma pengen kamu baik-baik saja,” bisik mamanya. El terkejut. Selama ini, ia pikir mereka tidak peduli. Tapi ternyata, mereka hanya tidak tahu cara menunjukkannya.    

Beberapa hari kemudian, El memutuskan untuk tidak kembali ke Shadow Syndicate. Ia tahu itu berbahaya. Tapi ketika ia mencoba memberi tahu Haikal, temannya itu malah memarahinya. “Jadi lo mau ninggalin kita gitu aja? Setelah semua yang kita lakuin bareng-bareng, El?” teriak Haikal, matanya penuh amarah.  “Gak gitu, Kal. Tapi ini salah. Aku gak mau ikut-ikutan pakai narkoba!”  Haikal mendekat, wajahnya dingin. “Kalau kamu pergi, jangan harap kamu bisa hidup tenang. Shadow Syndicate nggak akan biarin mantan anggota bocorin rahasia kita.”  El merasa ngeri, tapi ia tahu ia harus berani.  

Suatu malam, polisi menggerebek markas Shadow Syndicate. Beberapa anggota tertangkap, termasuk Haikal. Untungnya, El sudah benar-benar memutuskan untuk menjauh dan tidak ikut terjaring dengan hal buruk itu.  Ketika ia melihat berita itu di televisi, papanya duduk di sampingnya dan berkata, “Kami selalu sayang kamu, Nak. Kami cuma nggak tahu cara ngomongnya.” 

El akhirnya menangis. Ia sadar bahwa selama ini ia mencari kasih sayang di tempat yang salah.  “Aku tahu sekarang, Pa. Maaf.” Papanya memeluknya erat. Untuk pertama kalinya, El merasa ia akhirnya pulang ke rumah yang selama ini ia impikan.  

Setelah kejadian itu, Haikal akhirnya dikirim ke pusat pemulihan. El sering menjenguknya, meski awalnya Haikal masih marah. Tapi perlahan, ia mulai sadar bahwa ada orang yang masih peduli padanya. El dan keluarganya sendiri yang ternyata masih mau memberinya kesempatan. El pun belajar bahwa terkadang kasih sayang tidak selalu terucap. Tapi jika kita mau melihat lebih dalam, sebenarnya kasih sayang itu ada di sana, dalam perhatian kecil, dalam kehadiran yang tak pernah benar-benar pergi.  

“Aku nggak akan menghindar lagi.” El berjanji kepada dirinya sendiri. Kali ini, ia benar-benar memegang kata-katanya.

━TAMAT━

Sabtu, 04 Oktober 2025

Pantun Karya  NADLIRA GLADYS ANINDYA

Burung hantu di atas atap
Berkicauan lepas dari sangkar
Hidup harus merasa cukup
Dengan cara menambah rasa syukur

Jalan-Jalan ke Kota Brebes
Pulangnya membeli manggis
Siapa yang ikut jurnalis
Pasti kece dan keren abies

Sabtu, 11 Oktober 2025

Memandang Langit yang Sama
Puisi Karya KANAYA NAURA NADA Al KHIL

Aku memandang birumu dengan asa
Arah pikirku kacau, namun membisu di raga
Anggaplah aku si penakut gulita
Alasanku agar tak merusak tenangmu yang ada

Awan berlalu-lalang tanpa arah
Alangkah indahnya ciptaan Yang Maha Esa
Apakah aku, dia, dan langit adalah anugerah?
Ataukah hanya sekadar cerita yang fana?

Atmaku memandang langit yang kita pandang
Agar senjanya tak pernah meninggalkanmu tenggelam
Andai waktu bisa kutulis ulang dengan pena
Akan kuabadikan kamu di dalam aksara

Sabtu, 18 Oktober 2025

Rumah
Cerpen karya RIZKY IZZATI RAMADHANI

Langit merah, laut menjadi hitam, suara gaduh di mana-mana. Pagi ini terasa begitu sesak karena lapisan ozon kian hari makin menipis. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menapakkan kakiku di atas tanah yang gersang. Tanpa alas kaki, aku menapakkannya. Em, rasanya panas seperti yang kuharapkan. Memangnya apalagi yang bisa aku harapkan dari planet yang katanya mau hancur ini?

Ini adalah Abad Kekeringan. Abad ke-31. Abad yang sangat melelahkan dan meresahkan. Bumi sudah hampir kehilangan paru-parunya. Hutan sekarang sudah benar-benar minim keberadaannya. Kondisi ini nyaris tak bisa disebut kehidupan lagi. Sejak abad 30 akhir, hanya ada satu kelompok manusia yang tersisa. Kenapa? Di abad ke-30, kehidupan benar-benar riuh, hanya ada peperangan antarnegara. Perang yang benar-benar hebat. Bahkan hampir memusnahkan teknologi dan kehidupan seluruh makhluk hidup di Bumi. Hanya mereka yang beruntung yang selamat dan memiliki keturunan hingga sekarang. Kami hidup hanya di satu daerah, yaitu di Asia Timur. Saat ini, jumlah manusia benar-benar sedikit, hanya ada sekitar satu juta berdasarkan sensus penduduk, itu pun sensus satu tahun yang lalu.

Lalu, apa kabar mereka yang tinggal di Bumi saat ini? Sekarang saja seluruh manusia hampir meninggalkan Bumi dan pergi ke Eden-X, planet buatan yang baru lahir di dekat Mars. Dan Aku di sini adalah Li! Pemuda ceria yang penuh dengan ambisi dan tekad yang bulat untuk melindungi Bumi dari kepunahan. Aku memang berbeda dari yang lain. Di saat yang lain memilih untuk keluar, aku malah berlari ke dalam dengan penuh percaya diri. Sebenarnya, aku bingung dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Bumi ini sudah tidak layak huni dan bahkan ada yang sampai menjelek-jelekkan Bumi mereka sendiri. Padahal, kan, Bumi berubah menjadi seperti ini juga karena ulah mereka sendiri. Aku hanya orang yang penasaran dengan cara dunia bekerja. Rambutku ini keriting, kulitku putih pucat, iris mataku hijau seperti dedaunan yang hanya bisa kulihat di buku-buku tua panti asuhan. 

Aku tumbuh tanpa tahu wajah ayah dan ibuku, hanya ada bayangan, cerita samar dari para pengasuh, dan keheningan malam yang panjang. Aku menghabiskan masa kecilku dalam ketidakpastian hingga aku diterima di sebuah organisasi bernama Ferrum ketika usiaku menginjak 15 tahun. Ferrum bukan sekadar tempat pelatihan. Mereka adalah penjaga terakhir Bumi, planet yang sekarat. Di situlah aku mulai menemukan tujuan dan masa depan. Namun, bukan hanya masa depan yang kutemukan di sana. Ada Shen, sahabat masa kecilku di panti asuhan, yang juga bergabung ke Ferrum pada waktu yang sama. Ia selalu menjadi yang terbaik, tidak hanya dalam nilai, tapi juga dalam strategi. Shen adalah tipe yang tenang, bahkan terkadang sulit ditebak. Tapi kami saling memahami, mungkin karena kami berbagi masa lalu yang sama atau mungkin karena kami berbagi sesuatu yang lebih besar?

Aether Core. Aether Core bukan benda biasa. Ia adalah serpihan energi purba yang berasal dari inti Bumi. Suatu energi yang bisa menghidupkan kembali planet ini, menjadikannya subur, penuh kehidupan, dan seimbang. Namun, hanya dua orang yang memilikinya secara alami, yaitu aku dan Shen. Kami tak tahu bagaimana atau mengapa, tapi keberadaan Aether Core dalam tubuh kami membuat kami istimewa, berbahaya, dan terikat satu sama lain.

Masalahnya, Shen menyimpan rahasia besar. Saat aku berjuang bersama anggota Ferrum lainnya, menyelamatkan wilayah-wilayah di sekitar Guangzhou, Shen perlahan menghilang dari kehidupan kami. Hingga pada sebuah misi penyelamatan kedua di Guangzhou, aku melihatnya kembali. Namun, bukan sebagai anggota Ferrum, melainkan sisi lain dari Shen yang kukenal.

Pertemuanku dengan Shen bukan reuni yang indah. Ia berdiri di hadapanku, dengan wajah dingin yang tak pernah kulihat sebelumnya. Namun saat mata kami bertemu, aku tahu bahwa ia masih Shen yang sama. Masih ada keraguan di sorot matanya. Aku yakin 100% ini bukan kemauannya untuk bertindak seperti ini.

Aku berdiri di persimpangan, menghadapi sahabatku yang kini menjadi lawanku. Panasnya pasir yang kuinjak tidak menjadi masalah utama di sini. Semua akan kuupayakan demi sahabat dan planet tersayangku. Kutatap irisnya yang merah menyala seolah penuh amarah yang menggebu-gebu. Apa yang telah membuatnya berubah menjadi seperti ini? Kalimat itu menghantuiku selama aku menatapnya.

“Shen, ini Aku. Kamu lupa?” aku bertanya sambil menahan air mataku.

Dia tidak menjawab sama sekali. Itu membuat hatiku terasa dicabik-cabik. Di tangannya, dia memegang sebuah keris. Keris itu punya energi dari para leluhur yang memang digunakan untuk mengambil Aether Core dari kedua tubuh. Aku menelan ludahku dalam-dalam. Tidak mungkin. Masalahnya, keris itu adalah pusaka legendaris milik orang Nusantara. Bagaimana bisa Shen mendapatkannnya? Jangan-jangan, saat misi penyelamatan di Guangzhou kala itu…? Ya ampun. Kepalaku rasanya mau meledak.

“Li, maafkan aku. Maaf aku menghilang selama bertahun-tahun. Semua itu kulakukan demi menjadi mata-mata Eden-X…” Suaranya memecah keheningan di hamparan pasir yang luas ini. Dia gemetaran dan suaranya terputus, lalu darah keluar dari mulutnya. Aku merasa begitu khawatir, aku pun segera berlari ke arahnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Mereka menargetkan Aether Core kita berdua. Tapi, Aether Core-ku mulai melemah karena sering berada dalam jarak yang jauh dengan Aether Core-mu. Satu-satunya jalan yang bisa kita lalui adalah…”

“Sst… jangan bicara seenaknya, pasti ada solusi yang lebih pas.”

“Tidak ada jalan lain selain mengorbankan penuh salah satu dari kita. Dan yang paling memungkinkan adalah aku. Aether Core-ku sudah lemah, sudah tidak sekuat dulu lagi. Milikmu itu, masih kuat.”

“Shen, berhenti bicara seperti itu. Kalau kamu pergi, aku juga pergi.”

“Tidak perlu, Li. Tanpa kamu sadari, kamu sudah mengorbankan hidupmu berkali-kali demi nyawaku dan nyawa orang lain. Percayalah, oke? Sekali ini saja, sebelum mereka datang.”

Aku menatap Shen dengan bingung dan bimbang. Aku tidak menunjukkan ekspresi setuju sama sekali. Namun, dia segera meraih keris itu, lalu menancapkannya ke tanah. Cahaya biru, merah, hijau, dan putih memancar dari dalam tanah, membentuk pola purba. Pola empat elemen. Ini menjadi tanda bahwa Bumi siap untuk masa regenerasinya.

“Shen…”

Aku menatapnya dengan sedih. Tapi, dia malah membalasnya dengan senyuman. Melihat senyuman sahabatku itu membuatku merasa bersalah. Aku telah berburuk sangka padanya. Padahal hatinya sebaik dan sebersih ini. Maafkan aku, Shen.

Demi keberlangsungan hidup, salah satu dari kami harus berkorban sepenuhnya, menjadi inti baru dari planet yang bangkit. Dan Shen mengambil keputusan itu sebelum aku sempat melarangnya.

Kini, Bumi mulai pulih. Perlahan, tetapi nyata. Eden-X, alias planet buatan itu mulai hilang kabarnya. Tanpa Aether Core, sistem penyangga Eden-X lumpuh. Tanpa penyangga, waktu adalah musuh mereka. Shen juga menghilang, menjadi bagian dari tanah yang subur dan udara yang kembali segar. Dan aku memilih untuk memutuskan hubungan dengan Aether Core milikku. Kini, Aether Core itu menjadi jembatan antara dua dunia. Manusia mulai menjaga sikap dan perilakunya terhadap alam. Tidak ada lagi pencemaran, penyimpangan, dan kerusakan.

Sahabatku itu, aku masih memanggil namanya kadang-kadang. Tapi aku tahu, ia ada di mana-mana. Di dedaunan yang tumbuh. Di angin yang berhembus. Di aliran sungai yang jernih. Sebab, Bumi hidup kembali dan itu karena dia. Mereka yang hebat adalah mereka yang berani berkorban, tapi mereka yang berani bersuara juga tak kalah hebatnya.

Sabtu, 25 Oktober 2025

Pantun karya ARIVA KAYLA MUMTAZA

Jalan-jalan ke Kota Kediri,
Singgah sebentar di Taman Sekartaji.
MAN 2 tempat menuntut ilmu tinggi,
Mencetak generasi berprestasi.

Pagi cerah sinar mentari,
Menyinari hati penuh motivasi.
Belajar tekun penuh semangat diri,
Raih cita untuk masa depan gemilang nanti.

Ke toko Bu Sri beli nampan,
Jangan lupa ambil seikat serai.
MAN 2 Kota Kediri selalu terdepan,
Akhlak prestasi membanggakan negeri.

Sabtu, 1 November 2025

Simfoni Nusantara
Puisi Karya PRADANA KHAIRUSSABRI ROCHMAN MUAZZAM

Di pelupuk fajar, kulihat tari Saman menari angin,
Bersama gamelan yang berdenting dari ujung Jawa.
Tenun Toraja merajut kisah di benang-benang sakral,
Ritual Bali bersajak di antara dupa dan mantra.

Papua memahat makna lewat ukiran suku Asmat,
Sunda melagukan tembang di sela gemercik bambu.
Madura berseru lewat karapan yang membelah debu,
Sumatera merapal pantun dalam aroma kopi pekat.

Seribu budaya…bukan sekadar mozaik warna-warni,
Tapi nadi bangsa yang terus berdetak, yang tak terganti.

Sabtu, 08 November 2025

Di Balik Seragam Putih Abu-Abu
Cerpen Karya AVRIELIA DWI CAHYANI

Suasana sore setelah hujan terasa begitu syahdu. Rintik-rintik air masih turun pelan, menyisakan aroma khas yang menenangkan. Di koridor SMA Nusantara, Aluna berjalan seorang diri dengan langkah lemas. Di sekelilingnya, murid-murid lain berlarian sambil tertawa dan bercanda, namun Aluna hanya diam. Baginya, hari-hari di sekolah terasa seperti lukisan hitam putih (datang, duduk di kelas, mencatat pelajaran, mengerjakan tugas, lalu pulang). Begitu terus setiap hari. Ia merasa masa SMA nya tidak seberwarna teman-temannya yang penuh prestasi. Di kelas, ia bukan murid paling pintar. Di lapangan, ia bukan atlet unggulan. Ia jarang muncul di OSIS atau ekstrakurikuler. Ia merasa seperti batu kecil di pinggir jalan, ada, tapi hampir tak terlihat. Kadang, Aluna bertanya pada dirinya sendiri, “Kalau suatu hari aku pergi, apakah ada yang akan mengingatku?”

Hingga Aluna berjalan di koridor menemukan mading yang ada informasi “Lomba Karya Tulis & Poster Lingkungan Antar SMA se-Kota Kediri.” Ia berpikir apa ia mengikuti lomba tersebut saja ya.. ia tampak tertarik dengan lomba tersebut karena ia pikir sepertinya seru juga mengikuti lomba iti. “Apa aku coba saja ya, kapan lagi aku mengikuti lomba karya tulis, kalau enggak aku mulai dari sekarang kapan aku akan maju ya… “. Kemudian datanglah Bu Rika yang mendatangi Aluna dan bertanya kepada Aluna yang sedang kebingungan. “Kamu sepertinya tertarik ya Aluna, dengan lomba karya tulis tersebut.“ Kemudian Bu Rika menyakinkan Aluna agar segera mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba tersebut karena pendaftaran akan segera ditutup. Aluna berpikir bahwa ia yakin akan mendaftarkan diri walaupun ia belum pernah mengikuti lomba semacam itu. Kemudian mereka saling berpamitan dan pulang karena mengingat hari sudah sore. 

Sesampainya di rumah, Aluna mulai membuat kerangka karya tulisnya. Ia membaca beberapa buku sebagai referensi dan merasa, ternyata menulis cukup seru membuatnya bertanya-tanya kenapa ia tidak mencoba dari dulu. Karena hari sudah malam, ia memutuskan melanjutkannya besok, bertepatan dengan hari libur.

Keesokan harinya, Aluna menulis di tepi sungai favoritnya. Ia memilih tema “Sungai Yang Menyimpan Cerita.” Sejak itu, hampir setiap sore ia kembali ke sana. Duduk di bangku dekat jembatan, ia mencatat apa pun yang dilihat dan didengarnya: warna air, suara dedaunan, aroma lembab, juga tawa anak-anak yang bermain. Namun, menulis tidak selalu mudah. Kadang ia menatap kertas kosong berjam-jam tanpa satu ide pun. Teman-temannya pun tak selalu mendukung.

“Serius amat, Al? Kayak mau nyelamatin dunia,” canda Melly.

“Siapa tahu jadi menteri lingkungan,” tambah Fajar sambil tertawa.

Aluna hanya tersenyum.

Pernah suatu malam ia hampir menyerah. Hujan deras, listrik mati, dan ia menulis ditemani sebatang lilin. “Untuk apa? Siapa yang peduli tulisanku?” batinnya. Tapi ia teringat ucapan Bu Rika saat mengoreksi drafnya:

“Tulisanmu punya hati, Al. Itu yang nggak semua orang punya.”

Kalimat itu seperti cahaya kecil yang membuatnya kembali membuka buku catatan.

Hari pengumpulan pun tiba. Aluna menyerahkan naskah dan poster sederhana bergambar anak-anak bermain di sungai jernih. Ia lega, tapi juga cemas. Ia tak berharap banyak karena ini pertama kalinya ia ikut lomba. Namun Bu Rika terus memberinya semangat agar percaya pada proses.

Beberapa hari kemudian, Aluna dan Bu Rika membuka pengumuman lomba secara daring. Jantungnya berdegup kencang, dan seketika terhenti sesaat saat melihat namanya. Juara 1. Ia dan Bu Rika saling menatap kaget.

“Selamat, Aluna! Ibu sudah bilang, kamu punya kemampuan. Tingkatkan lagi, ya,” ucap Bu Rika bangga.

“Terima kasih, Bu… Saya benar-benar tidak menyangka,” balas Aluna terharu.

Seminggu setelahnya, saat upacara hari Senin, nama Aluna kembali dipanggil.

“Juara 1 Lomba Karya Tulis & Poster Lingkungan se-Kota Kediri diraih oleh Aluna Putri, XI IPA 2!”

Seluruh lapangan bertepuk tangan. Kakinya bergetar saat melangkah ke depan, tetapi hatinya hangat tak terkira.

Sejak hari itu, banyak hal berubah. Ia diminta menulis untuk buletin sekolah, diundang berbicara di acara OSIS, dan guru-guru mulai mengenalnya. Bahkan posternya terpajang di balai desa.

Seorang bapak berkata, “Anak ini yang buat? Bagus, Nak. Warga jadi malu buang sampah sembarangan. Minggu depan kami mau gotong royong.”

Mata Aluna berkaca-kaca. Ia tak percaya sesuatu yang dulu ia anggap kecil bisa membawa perubahan.

Beberapa minggu kemudian, ia kembali duduk di tepi sungai yang kini lebih jernih. Angin sore menyapu pelan, dan cahaya matahari menari di permukaan air. Aluna tersenyum.

Ternyata, di balik seragam putih abu-abu, aku juga punya warna.

Dan warna itu… akhirnya terlihat.

—Selesai—
Sabtu, 15 November 2025

Pantun Karya SHANDY NAYSILLA

Malam hari dingin tak terasa
Angin kencang bertiup bawakan pesan
Hidup memang tentang suka dan duka
Namun semua itu hanya Tuhan yang
mengizinkan

Naik kapal ke negeri Syiah
Sampai disana mencari upah
Jangan pernah meninggalkan ibadah
Karena sesungguhnya tempat kembalimu adalah tanah

Sabtu, 22 November 2025

Tak Membenci Hujan
Puisi Karya CALLYSTA AZMI AR RASHIDA JASMINE

Di tengah derasnya rintik malam,
Aku menangis, meluruhkan beban.
Suara hujan ramai menutupi,
Isak tangis yang tersembunyi dalam jiwa.

Mengapa hidup terasa begitu berat?
Langkah terjatuh, harap pun pudar.
Duka datang tanpa pernah diundang,
Menerpa hati dengan pilu yang dalam.

Namun aku tak bisa membencinya,
walau setiap malam ia menjadi saksi,
Karena rintiknya menyapa lembut,
Menghapus sejenak luka dalam dada,
Membawa damai di tengah gejolak jiwa.

Dalam gemuruhnya, kutemukan tenang.
Rintik hujan menjadi lagu penghibur,
Teman sunyi yang setia menemani,
Meski lara, aku belajar berdamai.
Berdamai dengan keadaan dan diri.

Sabtu, 29 November 2025

AKU TEJO
Cerpen Karya ARAMINTA AZALIA

Gadis itu membungkuk. “Maaf,” ujarnya. Ini sudah kedua kalinya aku melihat gadis itu
menolak pria yang melamarnya. ‘Padahal beberapa dari mereka cukup mapan,’ batinku. Kalau
aku tidak salah ingat, gadis itu adalah si ‘Kembang Desa’. Paras ayu, kulit sawo matang, surai
hitam legam, senyumnya pun manis. Tidak heran banyak lelaki yang ingin meminangnya. Tapi,
hampir semua ia tolak. Yah, mungkin gadis itu punya alasan khusus. Kita tidak boleh langsung
menghakimi, kan? Daripada berlama-lama disini, aku memutuskan untuk kembali ke rumah.
Ngomong-ngomong perkenalkan, aku Tejo. Aku adalah seekor ayam. Jangan kalian
samakan aku dengan ayam-ayam di luar sana, aku ini bukan ayam sembarangan. Aku adalah
seekor ayam jago yang amat gagah dengan bulu berwarna merah menyala. Setiap pagi aku
selalu membangunkan warga desa dengan kokokanku yang keras dan berwibawa. Selain itu,
aku cukup terkenal di kalangan ayam betina karena wajahku yang tampan.
Dikala senja mulai membalut cakrawala, Kadir, majikanku, baru akan kembali dari
sawah. Menyadari aku yang sejak tadi menantinya, Kadir dengan segera menghampiriku. Ia
mengelusku perlahan. “Tejo, ingin rasanya aku jadi orang kaya sejak lahir, jadi aku tidak perlu
bersusah-susah demi sesuap nasi,” keluh Kadir. “Kalau aku kaya mungkin sekarang kamu
tinggal di dalam sangkar emas, Tejo,” sambungnya. Setiap hari selalu saja begini. Kadir kembali
dari sawah, menghampiriku, dan kemudian mulai mengeluh soal beratnya kehidupan. Aku
sebagai ayam kan juga lelah mendengar ocehannya setiap hari?!
Aku dan Kadir berjalan kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, ia terus mengoceh.
“Tejo, aku sepertinya jatuh hati pada seseorang,” celetuk Kadir. Aku terhenti. Kadir suka pada
seorang perempuan?! Aku kira selama ini dia belok— lupakan. Kadir menyadari aku yang
berhenti. Ia lantas berjongkok, “Heh, Jangan tiba-tiba berhenti dong. Kesannya seperti kamu
sedang meledekku,” ucap Kadir kesal. ‘Memang,’. Kami melanjutkan perjalanan. Sesampainya
di rumah cahaya senja sudah redup, menyisakan gelap. Kadir memberiku nasi sisa tadi pagi.
Sejujurnya aku tidak suka rasanya, tapi daripada aku kelaparan? Padahal ayam jago milik Pak
Agus setiap hari diberi makanan khusus ayam.
Pagi ini, Kadir kembali bekerja di sawah. Sebagai seekor ayam, tentu aku tidak akan
diam saja di pekarangan rumah. Aku harus berkeliaran, memamerkan ketampananku. Di tengah
perjalanan, aku bertemu gadis itu lagi. Iya, si Kembang Desa. Lagi-lagi ia dilamar seseorang
dan lagi-lagi ia menolak. Sungguh, pemandangan yang memuakkan. Kuputuskan untuk tidak
memedulikanya. Namun, “Eh, kamu sedang tersesat? Bukannya kamu ayam milik.. Kadir?”
gadis itu mengangkatku. Dia mulai mengelus buluku berlahan, “Tenang, aku akan
mengantarkanmu kembali ke Kadir,” ucapnya.
Mendengar hal tersebut, aku langsung memberontak. Enak saja, jauh-jauh aku
menempuh perjalanan kemari, dan dia dengan seenaknya mengira aku tersesat dan bahkan ingin
membawaku kembali ke pemilikku. Sayangnya, semakin aku memberontak, semakin erat pula
gendongannya. Aku pun pasrah. Sepertinya rencana jalan-jalanku hari ini gagal.

“Selamat pagi, Salim,” “Pagi, Indah!” hampir setiap orang yang ditemui gadis ini selalu
dia sapa. ‘Ekstrovert sekali dia,’ batinku. Tak terasa, kami telah tiba di tempat Kadir sedang
beristirahat. Darimana dia tahu Kadir ada disini? Aku pun tak tahu. Padahal masih pagi, tetapi
si Kadir sudah kelelahan saja. Lemah. “Selamat pagi, Kadir,” ucap gadis itu. Kadir yang
awalnya sedang memejamkan mata, langsung terperanjat. Caping yang semula menutupi
wajahnya terjatuh. “Kampret, aku sedang istirahat— loh?” Kadir menghentikan kata-katanya.

Ujung jemarinya bergetar. “Ha-Hanan?” ucap Kadir. Kadir yang awalnya bersandar di pohon
langsung berdiri. “Tiba-tiba sekali mampir…,” ucap Kadir sambil mengusap tengkuknya.
K-A-S-M-A-R-A-N. Satu kata itu mewakili seluruh isi otak Kadir. Sekali lihat saja aku
langsung tahu. Kadir jatuh hati pada Hanan. Memang pengalamanku soal hal seperti ini tak
boleh dianggap remeh. Hanan tersenyum, “Aku melihat ayammu yang sepertinya tersesat. Jadi,
aku segera membawanya kemari, daripada nanti ia hilang, kan?” ujar Hanan. Seketika Kadir
menatap remeh ke arahku. Aku pun memalingkan wajahku ke arah lain. Sial, lama sekali dia
menatapku?! “Kadir?” suara Hanan membuyarkan lamunan Kadir. “Eh, iya?” balasnya. Hanan
menyerahkanku pada Kadir. “Warna ayammu cantik sekali. Jarang-jarang ada ayam dengan
warna merah secerah milikmu. Apa kamu memberinya nama?” tanya Hanan. “Iya, aku
memberinya nama Tejo,” balas Kadir sambil tersenyum kikuk.

Selang beberapa menit, Hanan akhirnnya pamit. Dan tepat setelah itu Kadir lompat-
lompat kegirangan. “Tejo! Kamu membawa keberuntungan! Ini pertama kalinya aku mengobrol

dengan Hanan,” girang Kadir. “Aku harus mulai mempertimbangkan siapa nama anak kita
nanti!” lanjutnya sambil tersenyum miring. Oh, dasar manusia kasmaran. Baru berbincang
sekali saja sudah memikirkan sampai jenjang pernikahan. Nanti kalau tidak jadi, duh, galaunya
seabad!

Tiba- tiba saja Kadir tersandung dan jatuh. ‘Mampus,’ batinku. Salahmu lompat-lompat
seperti orang gila. Daripada memperhatikan si Kadir yang kesakitan, aku memilih untuk

meninggalkannya. Aku lapar. Mending cari asupan. Aku mengamati sekitarku, siapa tahu tiba-
tiba ada steak Wagyu A5 di dihadapanku, kan? Tak lama mataku tertuju pada biji jagung yang

berserakan di tanah. ‘Yasudahlah, disyukuri saja. Daripada makan nasi sisa, kan? Mana nasi
itu seringkali sudah basi. Sehat-sehat lambung,’

Aku mengais-ngais biji jagung di tanah, menikmati santapanku dengan tenang.
Sementara itu, di belakangku terdengar suara Kadir yang masih mengerang kesakitan. Dasar
manusia ceroboh, selalu saja ada saja tingkahnya yang membuatku geleng-geleng kepala— eh
geleng-geleng jengger. Setelah puas mengisi perut, aku menoleh ke arah Kadir. Dia sedang
duduk di tanah sambil memeriksa lututnya yang tergores. Wajahnya masih berseri-seri, tidak
seperti orang yang baru saja jatuh. “Tejo,” panggilnya tiba-tiba. “Aku sangat yakin Hanan itu
jodohku,”. Aku mengangkat kepala, menatapnya jijik. Andaikan aku bisa bicara, aku pasti
sudah bilang, ‘Mas, baru ngobrol sekali aja udah mikir jodoh? Astaghfirullah.’
.
Tiba-tiba, suara langkah kaki membuat kami berdua menoleh. Dari arah timur, seorang
pria asing muncul dengan sebuket bunga di tangannya. Tingginya semampai, rambutnya tersisir
rapi, dan pakaiannya… terlihat lebih mbois dibanding Kadir. Bukan bermaksud merendahkan
orang yang selama ini memberiku makan, tapi memang kenyataan. Jika disandingkan dengan
pria itu, Kadir dengan kaos partainya pasti terlihat seperti gembel. Aku melirik Kadir yang
wajahnya seketika berubah tegang. “Itu… siapa?” bisik Kadir sambil berusaha berdiri.
Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Jamal, seorang pengusaha dari desa sebelah.
“Hanan, aku sudah lama mendengar tentang dirimu. Banyak orang di desaku yang memuji
keramahan dan kebaikan hatimu. Aku harap kita bisa lebih sering bertemu, atau malah
melanjutkan ke hubungan yang lebih serius,” katanya sambil tersenyum. Kadir, yang

mendengar itu, langsung menggenggam erat batang pohon. “Pengusaha sukses? Dia pasti punya
banyak uang. Bagaimana aku bisa bersaing?” keluhnya dengan suara berbisik. Aku hanya
memandang Kadir dengan penuh iba. ‘Oh, jadi ini definisi pewaris vs perintis..,’ batinku. Aku
mengulurkan sayap kananku untuk menepuk-nepuk betisnya perlahan.

Kadir menatapku dengan penuh harap, seolah aku, ayam peliharaannya, bisa
memberikan solusi atas masalah cintanya. “Tejo, kau benar. Aku tidak bisa menyerah begitu
saja. Kalau Jamal punya uang, aku harus punya sesuatu yang lebih dari itu!” katanya penuh
semangat. Aku mengernyitkan dahi. ‘Kapan coba aku bilang begitu? Tapi serius, apa
maksudnya? Apa dia akan mengganti mimpinya jadi punya ayam bersangkar berlian? Atau
malah aku akan punya rumah sendiri?’ pikirku. Tapi Kadir tampak serius. Dia berdiri tegap,
menatap ke arah rumah Hanan dengan mata penuh tekad. “Mulai besok, aku akan bekerja lebih
keras di sawah. Aku akan menabung. Kalau aku bisa beli sepetak tanah tambahan, aku bisa jadi
petani sukses. Hanan pasti oleng padaku,” ujarnya dengan percaya diri. Aku hanya bisa
memutar bola mata. ‘Tanah sepetak saja belagu, dasar orang banyak ngayal,’ batinku.
Namun, rencana Kadir berubah saat dia pulang ke rumah. Malam itu, saat dia sedang
makan nasi goreng sisa pagi, sebuah ide aneh terlintas di kepalanya. “Tejo, aku punya ide
brilian!” serunya. Aku meliriknya dengan setengah hati. Biasanya, ide brilian Kadir tidak
berakhir baik. Bukan biasanya sih, tapi selalu. “Aku akan membuat Hanan terkesan dengan
keterampilanku… bernyanyi!”. Aku melongo dibuatnya.
Keesokan harinya, Kadir membawa gitar usangnya ke sawah. Aku mengikutinya
dengan enggan, berharap rencana ini akan gagal sebelum mencapai ke tahap memalukan.
Ketika Kadir melihat Hanan sedang berjalan sendirian, dia langsung menghampirinya.“P-pagi
Hanan.. Boleh aku menyanyikan sebuah lagu untukmu?” tanya Kadir dengan senyum lebar.
Hanan terlihat terkejut, tetapi ia mengangguk sopan. “Tentu, silakan,” jawabnya. Tak heran dia
terkejut, aku kalau jadi Hanan pasti langsung lapor polisi. Kadir mulai memetik gitar, tetapi
suara senar yang putus membuat melodinya terdengar aneh. Dia mulai bernyanyi dengan suara
yang sumbang:
“Aku tak punya bunga ~
Aku tak punya harta~
Yang kupunya hanyalah hati yang setia~
Tulus padamu, Hanan~”
Hanan menutup mulutnya, mencoba menahan tawa. Aku yang berdiri di dekat kaki
Kadir langsung mengubur wajahku di tanah. ‘Memalukan,’ batinku. Ketika lagu berakhir,
Hanan bertepuk tangan kecil sambil tersenyum. “Itu… kreatif sekali, Kadir,” katanya. Kadir
terlihat berbinar-binar, seolah dia baru saja memenangkan penghargaan Indonesian Idol.
Namun, dari kejauhan, aku melihat Jamal datang lagi dengan membawa kotak makanan. Dia
menyapa Hanan dengan ramah, lalu memberikan kotak itu padanya. “Ibuku membuat kue
kering dan dia ingin kamu mencicipinya, Hanan. Semoga sesuai dengan seleramu, ya,” katanya.
Kadir seketika murung, sementara aku hanya bisa mendesah panjang. ‘Jalanmu masih panjang.
Semangat ya,’ batinku sambil menepuk-nepuk betisnya lagi.

Wajah Kadir berubah suram, penuh dengan kekalahan. Aku, sebagai ayam yang setia
menemani, hanya bisa memiringkan kepala sambil menatapnya iba. “Kue buatan ibunya? Kok
bisa kepikiran sih?” Kadir menggerutu sambil memandangi gitarnya yang cacat. “Tejo, aku ini
kalah segalanya. Suara sumbang, wajah jelek, miskin pula. Aku ini apa dibanding Jamal?”.
“Tejo, apa aku harus menyerah saja?” tanyanya sambil menatapku. Aku hanya menatapnya
balik, karena jelas-jelas aku tidak bisa menjawab. Apa tidak terkejut dia kalau aku tiba-tiba
ceramah?
Namun, sebelum Kadir semakin depresi, suara lembut terdengar. “Kadir?”. Kami
berdua menoleh bersamaan, dan di sana berdiri Hanan, membawa kotak kue tadi di tangannya.
Mata Kadir membulat. “Eh… iya, Hanan?” jawab Kadir, berusaha terdengar santai meskipun
suaranya sedikit gemetar. “Aku… mau bilang terima kasih untuk lagunya tadi,” kata Hanan
sambil tersenyum. “Itu lucu, dan aku suka caramu menyampaikan perasaanmu.”
Kadir terdiam. Matanya berbinar seperti baru saja diberi kabar bahwa ia memenangkan
tiket liburan gratis. “Kamu… suka lagunya?” tanyanya, memastikan. Hanan mengangguk.
“Oh— Jamal tadi memberiku kue ini, tapi… aku merasa ini terlalu banyak kalau kumakan
seorang diri. Jadi, aku pikir mungkin kamu mau mencicipinya,” ujarnya sambil menyerahkan
kotak itu pada Kadir.
Kadir menatap kotak kue itu seperti menatap berlian. “Serius, Hanan?” tanyanya penuh
harap. “Iya. Kamu terlihat lelah. Mungkin ini bisa jadi camilan untuk menemani istirahatmu,”
jawab Hanan sambil tersenyum. Tak lama, Hanan pamit.
“Tejo, ini tanda! Dia peduli padaku!” seru Kadir penuh semangat.
Aku menghela napas panjang. ‘Dasar, Ini cuma kue, bukan janji menikah,’ batinku. Tapi
melihat wajah Kadir yang kembali bersinar, aku merasa tidak tega merusak momen ini. Hari
itu, Kadir kembali bekerja dengan semangat baru, sementara aku hanya bisa mengikuti dari
belakang, berharap dia tidak terlalu sering membicarakan nama anaknya di masa depan. Ah,
dasar manusia. Aku jadi ingin merasakannya lagi.

Sabtu, 06 Desember 2025

Pantun Karya KHALISHA YAFA FAIRUZ

Mentari pagi menyapu cakrawala
Si ayam jago mulai bersenandung riang 
Selamat pagi saudara-saudara
Semoga hari ini dipenuhi rasa senang 

Rasi bintang menuntun pelaut
Dituntun hingga ke Negeri Paris 
Apapun tantangannya janganlah takut
Karena kita adalah seorang perintis 

Sang biru di antara kehampaan
Permata kecil di samudra bintang 
Kita adalah harapan
Maka janganlah cepat tumbang

Sabtu, 13 Desember 2025

Mimpi adalah Kunci Kesuksesan
Cerpen Karya M.YASIN AL F

Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis remaja dengan senyum yang begitu manis. Namun, di balik senyuman itu tersimpan trauma yang membuatnya sering memilih diam. Gadis itu bernama Melati, seorang remaja tangguh yang menyimpan banyak mimpi tentang masa depan.

Kisah Melati dimulai pada hari Senin yang cerah. Ia berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian akhir masa MAN. Melati dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan teguh memegang hal-hal positif. Namun, setibanya di sekolah, langkahnya kembali terhenti oleh geng yang kerap mengusik hidupnya, Queen Party.

“Hey, kenapa lo balik lagi ke sini? Bukannya lo anak miskin?” ujar Lani dengan nada tinggi.

“Iya, sok asik banget,” tambah Mila, salah satu anggota geng itu.

Dengan tangan bergetar, Melati memberanikan diri menjawab,

“Jujur, aku sudah muak dengan circle kalian. Aku kesini untuk mencari ilmu, bukan cari muka. Paham?”

“Oh, sekarang lo berani sama gue?” balas Lani tajam.

Perhatian siswa di lorong kelas pun tertuju pada mereka.

“Maaf, bukan berani. Tapi aku butuh keadilan,” ucap Melati dengan air mata yang mulai menetes.

“Itu sama saja nantangin geng gue. Fine, lihat aja nanti,” kata Lani sambil mendorong Melati hingga terjatuh.

Queen Party pergi begitu saja. Tak satupun siswa yang menolong. Melati terdiam sendirian, menahan tangis. Saat itulah, seorang lelaki dari kelas sebelah menghampirinya dan mengulurkan tangan.

“Pegang tanganku. Aku akan menolongmu dengan tulus,” ucapnya.

“Kamu siapa?” tanya Melati ragu.

“Tidak usah banyak tanya. Pegang saja.”

Melati pun menerima pertolongan itu.

“Terima kasih. Tanpamu, mungkin aku sudah tak sanggup berdiri,” ucapnya lirih.

Lelaki itu pergi tanpa banyak kata. Bel masuk pun berbunyi. Melati segera menuju kelas. Namun, sesampainya di bangkunya, ia terkejut, bangkunya telah diberi jebakan telur busuk.

Tawa dan ejekan memenuhi kelas.

“Huuu, anak kampung!” teriak Mila.

“Mentang-mentang dapat beasiswa, sok pede!” sindir Lani.

Dorongan membuat Melati hampir terjatuh, namun lelaki yang sama kembali muncul dan menangkapnya. Refleks, Melati mendorongnya.

“Lo udah ditolong malah dorong balik,” gerutu lelaki itu sambil pergi.

Melati pun pergi ke toilet untuk mengganti seragamnya. Di depan cermin, ia melamun.

Dalam bayangannya:

“Melati, kamu pasti bisa jadi dokter dan kuliah di PTN impian dengan beasiswa penuh. Bersabarlah.”

Lamunannya buyar oleh sahabatnya, Ilma.

“Melati, bangun!”

Beberapa jam kemudian, bel pulang berbunyi. Sesampainya di rumah, Melati mendapat kabar bahwa ibunya masuk rumah sakit. Ia segera bergegas ke sana.

Di ruang administrasi, Melati diberi tahu bahwa biaya perawatan ibunya mencapai 20 juta rupiah. Dengan hati gundah, Melati menuju mushola untuk berdoa.

“Ya Allah, berilah hamba petunjuk dan kesehatan untuk ibu hamba. Amin.”

Ia tertidur dan kembali bermimpi.

“Percayalah, doamu akan terkabul,” ucap peri mimpi.

Saat terbangun, teleponnya berdering.

“Melati, kamu diterima di Universitas Oxford dengan beasiswa penuh 100%,” ujar pihak sekolah.

Air mata bahagia pun mengalir. Keesokan harinya, ibunya sadar dari koma. Melati menceritakan semua kabar baik itu.

“Alhamdulillah. Dulu kamu sering dibully, tapi karena keikhlasanmu, kamu bisa sampai di titik ini,” ucap ibunya sambil memeluk Melati.

Beberapa hari kemudian, Melati kembali ke sekolah untuk acara perpisahan. Geng Queen Party pun meminta maaf. Semua berakhir tanpa kebencian.

Tamat

“Di balik kisah sedih, pasti ada masanya untuk senang.”
— M. Yasin

Sabtu, 20 Desember 2025

Secuil Harapan di Ujung
Puisi Karya KALILA SALSABILA

Di ujung jalan yang panjang
Banyak harapan masih bersinar terang
Walaupun sulit diraih
Rintangan tak kan menghalangi

Lentera harapan bersinar menerangi kegelapan
Mimpi di depan, menjadi tujuan kita
Air mata menjadi saksi
Jatuh dan terbangun menjadi aksi

Lambaian tangan berusaha menggapai
Kaki melangkah dengan berani
Di tengah kesulitan kita berjuang
Berharap impian itu akan berhasil suatu hari nanti

Sabtu, 27 Desember 2025

Pantun Karya ANNIDA ROBI’ATUL MUKAROMAH

Saudaraku yang disana
Sebilah pisau putih mengkilat
Siap membelah apa yang menghadang
Sedih hati aku melihat
Saudaraku tergeletak mati berperang

Buah semangka hijau warnanya
Bila dibelah rona memerah
Tangan mengepal di atas kepala
Raut wajah berlumur darah

Sabtu, 3 Januari 2026

Jam Pasir yang Mengembalikan Musim Semi
Cerpen Karya AISYA SAHDA SALSABILA

“Seperti musim, hidup pun berganti, tidak ada yang selamanya beku, selalu ada harapan sehangat matahari”

Musim dingin di Desa Willowbrook sudah berlangsung terlalu lama, lima tahun tanpa setetes
pun hujan hangat atau bunga bermekaran. Salju menutupi atap rumah seperti selimut tebal
yang tak pernah tersingkap. Pohon-pohon berdiri pucat, rantingnya kaku dan rapuh seperti
tulang tua. Sungai membeku menjadi jalur es panjang, membelah desa yang sepi.
Orang-orang berjalan dengan kepala tertunduk, menghemat tenaga karena dingin menusuk
sampai ke tulang.


Di tengah desa itu, tinggal seorang gadis bernama Lira. Usianya 13 tahun. Memiliki kulit
putih seputih salju dengan pipi merona seperti strawberry dan kelopak mata biru bak
permata safir. Rambut coklat muda bergelombangnya, Ia biarkan tergerai. Ia tinggal
bersama kedua orang tua nya.


Di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu pohon oak, beberapa bagian sedikit
lapuk karena amukan badai salju dan hujan es yang melanda. Lira terbiasa mengumpulkan ranting kering dan mencari makanan di antara tumpukan salju. Tangannya kapalan, pipinya selalu merah karena angin, tapi hatinya tetap keras seperti batu, ia tahu, jika ia berhenti bergerak, ia akan menyerah seperti sebagian warga yang kehilangan harapan.


Sore hari, ketika badai salju mereda dan langit kelabu mulai memudar, Lira memutuskan
untuk membereskan loteng rumah. Tangannya meraba sebuah peti kayu kecil yang
terpendam di balik tumpukan kain perca tua. Peti itu berat dan tertutup debu tebal. “Sudah
berapa lama peti kecil ini ada disini” gumamnya. Bahkan kain perca tua pun tak sanggup
melindungi peti kecil itu dari hantaman debu. Ia membuka kunci peti yang sudah berkarat,
dan di dalamnya tergeletak sebuah jam pasir kuno. Benda itu berbeda dari jam pasir biasa.
Butiran pasirnya berwarna hijau lembut, berkilau seperti daun segar yang terkena embun
pagi. Bingkai kayunya diukir dengan gambar bunga yang belum pernah ia lihat, bunga
dengan kelopak melingkar seperti matahari kecil. Saat Lira menunjukkannya pada ibu, mata
nya membesar. “Itu… jam pasir legenda,” bisik ibunya, suaranya bergetar. “Dulu, para tetua
berkata bahwa jika jam itu di balik di Jantung Musim, vasanta akan kembali. Tapi tempat itu
kini terkubur di balik es, jauh di utara” lanjutnya seraya mengamati jam pasir kuno itu
lekat-lekat. “Apa jam pasir ini yang menjadi tanda musim salju yang terjadi 5 tahun
kebelakang ini..?” ucap Lira. Ibu nya melayangkan pandangan sekilas padanya.
“Jaga diri Lira dimanapun kamu berada ya nak” ujar ibu Lira, Ia mengusap surai halus putri
nya dan lanjut menyeduh 3 cangkir teh putih panas di atas nampan kecoklatan.


Lira menggenggam jam pasir itu erat. Ia lelah melihat desa membeku, anak-anak batuk
tanpa obat, dan orang-orang saling memalingkan wajah karena tak ada kabar baik yang bisa
dibagi.


Malam itu, ia memutuskan, ia akan menemukan Jantung Musim.

Keesokan paginya, Lira mengenakan jaket tebal, syal, dan sepatu kulit. Ia membawa sedikit
roti kering, kantung air, dan jam pasir, yang disimpan dalam peti, itu disimpan rapat di dalam
kantung. Udara menggigit kulit, tapi ia melangkah tanpa ragu. Di luar desa, salju menebal
hingga menutupi sebagian betisnya. Pohon-pohon berderit, dan angin membawa serpihan
es yang menampar pipi. Saat ia melewati semak beku, seekor rubah putih muncul. Bulunya
seputih kapas, matanya berwarna hijau zamrud yang berkilau.
“Kau akan membeku jika terus berjalan sendiri,” terdengar suara dari rubah itu.
“Kau… kau bisa berbicara..?” tanya Lira sangat bingung.
“Aku Oxzora, roh musim semi” jawab rubah itu tenang. “Aku terkunci di dunia ini selama
musim dingin bertahan. Jika kau benar-benar ingin memanggil musim semi, aku akan
menuntunmu. Tapi perjalanan ini tidak mudah”.
Lira menatapnya lama, lalu mengangguk. “Aku sudah terbiasa dengan sulit. Tunjukkan
jalannya”.


Detik itu, mereka berjalan bersama. Oxzora tahu jalan yang aman, menghindari retakan es
yang bisa membuat Lira jatuh ke air membeku. Malam hari, rubah itu tidur di dekatnya,
bulunya memberi sedikit kehangatan. Sesekali, Oxzora bercerita tentang bunga yang
pernah tumbuh di Willowbrook, warna, aroma, bahkan suara lebah yang mengunjunginya.
Cerita-cerita itu seperti api kecil yang membuat hati Lira tetap hangat.
Suatu malam, saat mereka berhenti di bawah naungan tebing es, angin malam bertiup lebih
lembut dari biasanya. Lira duduk bersandar pada batu, tangannya menggenggam jam pasir
di pangkuan. Pasir hijaunya berkilau samar di bawah cahaya bintang.


“Kau yakin kita bisa melakukannya?” Lira akhirnya bertanya, suaranya hampir tenggelam
oleh desir angin.


Oxzora menoleh, menatapnya dengan mata zamrud yang memantulkan bintang. “Aku sudah
melihat musim semi kembali berkali-kali, Lira. Tapi tak pernah ada manusia yang berjalan
sejauh ini untuk menjemputnya”.


“Kalau musim semi tak mau datang sendiri…” Lira menatap pasir di dalam kaca. “Maka aku
akan menjemputnya. Meski harus berjalan sampai kakiku tak sanggup lagi.”
Oxzora tersenyum kecil, tapi ada guratan kagum di wajahnya.

“Kau mengingatkanku pada awal mula musim semi. Hangatnya tak datang karena kuat, tapi karena tak pernah berhenti mencoba menembus dingin”.Lira mengernyitkan alis. “Musim semi… mencoba?”
“Ya,” jawab Oxzora menatap langit.

“Di balik salju dan es, biji-biji kecil berjuang memecah tanah beku. Mereka tak tahu apakah akan berhasil, tapi mereka tetap berusaha. Itulah mengapa bunga pertama selalu terasa paling indah, karena ia lahir dari perjuangan.”

Lira tertegun. “Kalau begitu aku ingin menjadi bunga pertama” ujarnya sambil tersenyum
menatap langit.

Oxzora terkekeh, suaranya seperti gemericik air yang menetes di musim semi. “Dan aku
akan memastikan kau mekar dengan indah” ucapnya dalam hati.
Malam itu mereka tertidur, hati mereka sedikit lebih hangat. Mereka tak tahu bahwa
keesokan harinya, perjalanan akan membawa mereka pada rintangan yang sebenarnya.
Hari ketiga, mereka tiba di dataran luas dikelilingi tebing es menjulang. Untuk melewatinya,
mereka harus berjalan di atas sungai beku yang penuh retakan. Angin di sana begitu
kencang, rasanya seperti tangan tak terlihat yang mendorong tubuh mereka ke arah jurang.

Di tengah perjalanan, kabut tebal turun. Dari dalam kabut itu, suara geraman terdengar, dan
makhluk bayangan musim dingin muncul. Tubuhnya besar seperti serigala, bulunya hitam
legam, matanya biru pucat seperti es. Nafasnya membeku di udara, dan setiap langkahnya
meninggalkan retakan panjang di es.
Makhluk itu mengincar jam pasir di kantung Lira. Oxzora melompat ke depannya, bulunya
berdiri, dan menggeram. “Pergilah! Musim semi bukan milikmu!”
Makhluk itu menerkam. Oxzora menghindar, memberi celah bagi Lira untuk berlari. Es di
bawah kakinya bergerak, retakan mengikuti langkahnya, namun ia terus bergerak sampai
kakinya menginjak tepian yang kokoh. Ox menyusul, napasnya memburu.
“Itu pelayan Ratu Musim Dingin,” ujar Oxzora. “Dia tidak akan berhenti sebelum jam pasir
itu hancur”.

Sejak itu, Lira berjalan lebih cepat, tapi rasa lapar dan dingin mulai menggerogotinya. Ia
hampir ingin menyerah. Namun setiap kali ia membuka kantung kulit dan melihat pasir hijau
yang tetap berkilau, hatinya kembali kuat. Ia ingin melihat warna itu memenuhi seluruh desa,
bukan hanya di dalam kaca.

Di hari ketujuh, setelah melewati hutan beku dan tebing licin, mereka tiba di lembah
tersembunyi. Lembah itu sedikit gelap dengan pencahayaan dari beberapa kunang-kunang.
Di sana berdiri taman membeku, pohon-pohon kristal es dan rumput yang kaku seperti
jarum kaca. Di tengahnya, sebuah altar batu berbentuk bunga berdiri, dihiasi pahatan sinar
matahari.Oxzora tersenyum tipis. “Inilah Jantung Musim. Letakkan jam pasir di altar itu, dan
musim akan bergerak kembali”. Lira mengangguk. Namun, sebelum Lira sempat melangkah,
angin berhenti mendadak. Dari kabut salju, sosok tinggi muncul. Ia adalah Ratu Musim
Dingin. Gaun perak menjuntai hingga tanah, kulit pucat, dan mata bak bulan purnama di
langit malam. Tatapannya tajam-setajam es pecah. Lira kaget dan hampir menjatuhkan jam
pasir itu. Ia menoleh ke arah Oxzora, mengisyaratkan apa yang harus Ia lakukan.


“Letakkan jam pasir itu, musim dingin adalah kekekalan. Musim semi hanya membawa
kelemahan” ucap Ratu Musim Dingin, suaranya dingin seperti besi.
Lira menggenggam jam pasir erat. “Orang tidak bisa hidup selamanya di dalam beku.
Mereka butuh hangat, butuh bunga, butuh harapan.”


Tatapan Ratu Musim Dingin menyipit. Angin badai berputar, salju menghantam wajah
Lira, hampir menjatuhkannya. Oxzora berdiri di depannya, tubuhnya bercahaya hijau. “Kau
tidak bisa menghentikan musim selamanya” Oxzora berteriak.


“Oh, jadi kau merasa seperti pahlawan musim sekarang?” cetus Ratu Musim Dingin seraya
mengangkat sebelah alis putih nya, Ia melangkah lebih maju mendekati Oxzora. “Aku
adalah Ratu Musim Dingin dengan kekuatan yang paling kuat diantara makhluk disini, lihat
musim dingin lima tahun kebelakang? Itu adalah Impian ku yang sekarang terjadi! Jadi..
dengan tubuh kecil mu itu, lebih baik berhentilah bermimpi bahwa musim semi akan
kembali” belum selesai Ratu Musim Dingin berceloteh, Lira mencelos menuju altar.
Dengan sisa tenaga, Lira menerobos angin, berlari menuju jam pasir berada, dan
meletakkan jam pasir hijau lalu membuang pecah jam pasir putih seputih es itu. Ratu Musim
Dingin terkejut bukan kepalang. Matanya membelalak, rahangnya mengeras, tangannya
mengepal sangat kuat. Butiran pasir hijau jatuh perlahan. Setiap butir yang menyentuh
dasar memancarkan cahaya lembut yang menyebar ke seluruh lembah. Pohon-pohon es
mulai meleleh, bunga-bunga bermekaran seketika, aroma segar memenuhi atmosfer.
Ratu Dingin menjerit, tubuhnya pecah menjadi kepingan salju yang terbang kabur bersama
angin. Oxzora berubah wujud, bulunya hilang, berganti gaun hijau panjang, rambut
keemasan nya yang lurus dihiasi bunga liar.

“Kau telah memanggilku kembali. Mulai sekarang, musim akan berganti sebagaimana
mestinya. Tidak ada satupun musim yang berkuasa selamanya” terangnya. Ia tersenyum
lembut. Menatap Lira dengan perasaan bangga.
Lira tersenyum lelah, tapi matanya berbinar. “Itu saja yang kubutuhkan” ujarnya seraya
merekahkan senyum yang lebar.


Perjalanan pulang terasa berbeda. Salju di jalan mencair, menyingkap rumput hijau dan
tanah basah. Sungai yang dulu membeku kini mengalir, memantulkan langit biru dan awan
awan yang bergandengan. Burung-burung kembali, suara kicauannya memenuhi udara
seperti kaset lagu yang telah lama hilang dari gramofon.


Saat tiba di desa, orang-orang tercengang melihat bunga liar tumbuh di tepi jalan.
Anak-anak berlarian di antara kelopak berwarna, tertawa tanpa takut kedinginan. Ibu Lira
duduk di beranda rumah, menutup mata menikmati sinar matahari. Musim semi musim kini
berganti wajar. Oxzoea kadang muncul di kejauhan, sekadar memastikan segalanya
seimbang. Dan Lira, meski tak memiliki kekuatan sihir, dikenal sebagai Penjaga Musim,
karena keberaniannya menjaga keseimbangan dunia.


Suatu sore, saat bunga-bunga mulai memenuhi tepi jalan, Lira duduk di beranda rumahnya.
Sinar matahari memantul di permukaan sungai yang kini mengalir bebas. Tiba-tiba,
bayangan putih melintas di halaman, Oxzora datang, dalam wujud rubah.
“Kau kembali?” tanya Lira girang.


Oxzora duduk di sampingnya, ekornya melilit rapi. “Musim semi sedang baik-baik saja,
berkat Penjaga Musim” tukas nya.


Lira menggeleng. “Aku hanya berjalan dan membalik jam pasir. Sisanya… musimlah yang
bekerja” sahutnya, Ia kemudian menyesap teh putih hangat nya seraya memandang
anak-anak kecil yang bermain di rerumputan yang hijau.


Oxzora menatapnya lama. “Tidak, Lira. Jam pasir hanyalah alat. Yang memanggil musim
semi adalah keberanianmu. Tanpa itu, pasir akan tetap terkurung di dalam kaca”.
Lira menunduk, menggenggam tangannya. “Jadi… semua ini terjadi karena aku tidak
menyerah?”


“Karena kau percaya bahwa sesuatu yang indah masih mungkin dan kepercayaan itu lebih
kuat dari badai mana pun” jawab Oxzora lembut. Angin membawa aroma bunga liar
melewati beranda. Lira menatap ke langit yang kini berwarna biru cerah. “Kalau begitu, aku janji… aku tidak akan lupa seperti apa rasanya menjemput musim semi” mata biru nya berbinar.


Oxzora tersenyum, lalu menghilang perlahan, meninggalkan Lira dengan hati yang penuh
hangat, hangat yang ia tahu akan selalu ia jaga, musim demi musim. Di dalam hati, Lira mengerti bahwa musim semi bukan hanya tentang bunga atau matahari, tapi tentang keberanian untuk melangkah di tengah badai. Ia sadar, setiap orang punya “musim dingin” sendiri, masa sulit yang tampak tak berakhir. Namun, seperti dirinya, siapa pun bisa menjadi Penjaga Musim bagi hidupnya sendiri. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah langkah pertama, dan keyakinan bahwa di balik salju yang tebal, ada bunga yang
sedang menunggu untuk mekar.

END
Sabtu, 10 Januari 2026

Di Balik Papan Tulis
Karya: Nida’ Salma Mumtazah (X-11)

Pagi buta, rasa kantuk belum reda
Tapi semangat sekolah tak bisa ditunda
Langkah kecil melintasi pagar
Mengejar cita-cita setinggi bintang bersinar
Guru bicara, kami mendengar
Terkadang melamun, tapi tetap sadar
Lembar ujian jadi medan tempur
Dengan pena sebagai senjata jujur
Kami bukan hanya belajar angka
Tapi juga makna hidup yang sesungguhnya

Sabtu, 17 Januari 2026

Puisi Karya Subhan Syifaul Qulub

Kak Ani jualan nasi,
tak lupa membeli pepaya
Mari sinari semesta ini,
dengan tulisan yang kaya makna.

Ibu Sanah membeli sate,
pulangnya mampir ke taman
Jangan terpengaruh oleh hal sepele,
mari bersama satukan tujuan.

Jalan-jalan ke Kota Pacitan,
pulangnya mampir ke rumah kakak
Janganlah engkau pacaran,
bila tak mau menyesal kelak.

DALAM KEHENINGAN
Cerpen Karya GADIZA JIHA RAMADHANI

Ujian sekolah yang melelahkan telah usai. Bunyi bel pulang sekolah akhirnya terdengar. Seusai hari yang melelahkan ini aku memilih mendinginkan pikiran di kantin sekolah. Terlihat banyak siswa-siswi berlalu-lalang membeli makanan untuk mengisi perut kosong. Tak tahan dengan keramaian kantin sekolah, aku menghela napas. Aku akhirnya memilih pergi ke perpustakaan sekolah.

Perpustakaan terlihat lengang. Bu Evi, pustakawan sekolahku sibuk mendata buku-buku baru dengan komputernya. Aku beranjak pergi ke lorong yang menyimpan banyak persediaan novel. Tempat ini sering aku hampiri ketika waktu istirahat. Segera aku mengambil satu novel. Sudah hampir setengah jam aku membaca novel “Si Putih”. Series ini menjadi favoritku sejak kelas tujuh.

Di sela-sela asik membaca novel, telingaku mendengar suara seorang bernyanyi dengan alat musiknya. Kulihat jarum jam tangan menunjuk pukul lima sore, matahari tergelincir di ujung langit menghasilkan langit senja yang selalu cantik. Mataku terbelalak, sudah sangat terlambat untuk kembali pulang. Kulihat meja Bu Evi sudah tertata rapi. Lengang. Hanya menyisakan suara seseorang bernyanyi itu.

Rasa penasaran meminta kakiku melangkah ke arah suara itu. Nyanyian itu terdengar merdu menyapa telingaku. Mengapa masih ada orang di sini? Bukankah sekolah sudah ditutup jika sudah pukul empat sore? Sepertinya Pak Mamen lupa mengecek perpustakaan. Hampir sampai di ujung rak buku aku mengintip di sela-sela tumpukan buku. Seseorang dengan rambut hitam yang jatuh rapi, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata yang fokus pada senar gitar di tanganya. Jari-jarinya gesit memainkan senar, alunan musik yang dia nyanyikan menyapa halus telingaku.

Sinar matahari senja menyinari wajahnya, membuat rambutnya berkilau meninggalkan aura kharismatik yang manis. Dia terlihat asik menyanyikan lagu itu, memikat siapa saja yang melihatnya dengan penampilanya yang keren. Sekilas pupil matanya menatapku, pandanganku bertemu denganya. Aku tersentak, ketahuan sedang mengawasinya. Aku berbalik badan, hendak kembali ke tempatku.

Langkahku tiba-tiba tertahan, merasakan ada yang menarik kerah bajuku dari belakang. Kepalaku mendongak ke atas, otomatis membuatku berbalik badan kembali dan berhadapan dengan orang itu. Dari penampilanya, sepertinya aku bisa menebak dia adalah salah satu anggota ekskul musik.

“Siapa kamu? Apa yang sedang kamu lakukan?” Kaos hitam dengan kemeja seragam yang dibiarkan kancingnya terbuka. Bola mata coklat itu menatapku seolah-olah aku adalah si tikus pengganggu. Sepatu converse hitam putih yang terlukis oleh debu. Suara petikan jari membuyarkan pikiran aneh itu.  “Ditanyain, kenapa diam aja? Penguntit, ya? Atau terpesona dengan…”

“Dasar sok tahu, bukan itu.” Aku langsung membalas tak terima bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

“Lalu siapa kamu?” Orang itu menyilangkan tanganya sembari bahunya menyandar di sisi rak buku. Dia menatapku aneh. 

“Aku di sini sedari tadi hanya sedang membaca buku. Lalu tiba-tiba aku dengar suara seseorang sedang bernyanyi. Seharusnya aku yang bertanya padamu.” Aku membalas ketus sembari  menyilangkan tangan. 

“Jadi kamu penasaran siapa orang yang sedang bernyanyi itu?”

Entah kenapa kulihat raut wajahnya semakin terkesan sombong. “Iya, alasannya karena suara itu muncul begitu saja. Sedangkan, sedari tadi kulihat perpustakaan ini sudah sepi sejak pulang sekolah.”

“Oh…” Ia hanya mengangguk ringan sebagai balasan.

“Tapi aku sudah tahu asal suara itu.” Aku sudah membalasnya lagi. “Kamu kan yang bernyanyi sambil memainkan gitar hitam itu?” Aku menunjuk gitar yang tadi dia mainkan. Cukup banyak tempelan stiker disana. Menghias gitar keren itu.

“Sok tahu, tapi benar.” Dia pergi begitu saja mengambil gitar dan tas ransel yang sudah tergantung di bahunya. Kulihat dia melangkah menghampiriku. “Yasudah, aku Owl. Aku pergi duluan.” Usai dia menyebut namanya, entah mengapa aku merasa bingung dengan tingkahnya. Aneh.

Dia pergi, menghilang di balik pintu perpustakaan. Perpustakaan kembali lengang. Tersisa suara jarum jam dinding yang berputar. Apa yang kulakukan hari ini? Perasaaan apa ini? Entahlah. Aku cepat-cepat menghapus pikiran aneh ini. Segera aku mengambil totebag putihku dan mengembalikan novel yang tadi kupinjam. Aku meninggalkan ruang perpustakaan. Ingin segera kembali ke rumah dan esok hari aku akan menikmati libur akhir semester ini.

Sabtu, 31 Januari 2026