a group of people standing in front of a large building
a group of people standing in front of a large building

Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis remaja dengan senyum yang begitu manis. Namun, di balik senyuman itu tersimpan trauma yang membuatnya sering memilih diam. Gadis itu bernama Melati, seorang remaja tangguh yang menyimpan banyak mimpi tentang masa depan.

Kisah Melati dimulai pada hari Senin yang cerah. Ia berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian akhir masa MAN. Melati dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan teguh memegang hal-hal positif. Namun, setibanya di sekolah, langkahnya kembali terhenti oleh geng yang kerap mengusik hidupnya, Queen Party.

“Hey, kenapa lo balik lagi ke sini? Bukannya lo anak miskin?” ujar Lani dengan nada tinggi.

“Iya, sok asik banget,” tambah Mila, salah satu anggota geng itu.

Dengan tangan bergetar, Melati memberanikan diri menjawab,

“Jujur, aku sudah muak dengan circle kalian. Aku kesini untuk mencari ilmu, bukan cari muka. Paham?”

“Oh, sekarang lo berani sama gue?” balas Lani tajam.

Perhatian siswa di lorong kelas pun tertuju pada mereka.

“Maaf, bukan berani. Tapi aku butuh keadilan,” ucap Melati dengan air mata yang mulai menetes.

“Itu sama saja nantangin geng gue. Fine, lihat aja nanti,” kata Lani sambil mendorong Melati hingga terjatuh.

Queen Party pergi begitu saja. Tak satupun siswa yang menolong. Melati terdiam sendirian, menahan tangis. Saat itulah, seorang lelaki dari kelas sebelah menghampirinya dan mengulurkan tangan.

“Pegang tanganku. Aku akan menolongmu dengan tulus,” ucapnya.

“Kamu siapa?” tanya Melati ragu.

“Tidak usah banyak tanya. Pegang saja.”

Melati pun menerima pertolongan itu.

“Terima kasih. Tanpamu, mungkin aku sudah tak sanggup berdiri,” ucapnya lirih.

Lelaki itu pergi tanpa banyak kata. Bel masuk pun berbunyi. Melati segera menuju kelas. Namun, sesampainya di bangkunya, ia terkejut, bangkunya telah diberi jebakan telur busuk.

Tawa dan ejekan memenuhi kelas.

“Huuu, anak kampung!” teriak Mila.

“Mentang-mentang dapat beasiswa, sok pede!” sindir Lani.

Dorongan membuat Melati hampir terjatuh, namun lelaki yang sama kembali muncul dan menangkapnya. Refleks, Melati mendorongnya.

“Lo udah ditolong malah dorong balik,” gerutu lelaki itu sambil pergi.

Melati pun pergi ke toilet untuk mengganti seragamnya. Di depan cermin, ia melamun.

Dalam bayangannya:

“Melati, kamu pasti bisa jadi dokter dan kuliah di PTN impian dengan beasiswa penuh. Bersabarlah.”

Lamunannya buyar oleh sahabatnya, Ilma.

“Melati, bangun!”

Beberapa jam kemudian, bel pulang berbunyi. Sesampainya di rumah, Melati mendapat kabar bahwa ibunya masuk rumah sakit. Ia segera bergegas ke sana.

Di ruang administrasi, Melati diberi tahu bahwa biaya perawatan ibunya mencapai 20 juta rupiah. Dengan hati gundah, Melati menuju mushola untuk berdoa.

“Ya Allah, berilah hamba petunjuk dan kesehatan untuk ibu hamba. Amin.”

Ia tertidur dan kembali bermimpi.

“Percayalah, doamu akan terkabul,” ucap peri mimpi.

Saat terbangun, teleponnya berdering.

“Melati, kamu diterima di Universitas Oxford dengan beasiswa penuh 100%,” ujar pihak sekolah.

Air mata bahagia pun mengalir. Keesokan harinya, ibunya sadar dari koma. Melati menceritakan semua kabar baik itu.

“Alhamdulillah. Dulu kamu sering dibully, tapi karena keikhlasanmu, kamu bisa sampai di titik ini,” ucap ibunya sambil memeluk Melati.

Beberapa hari kemudian, Melati kembali ke sekolah untuk acara perpisahan. Geng Queen Party pun meminta maaf. Semua berakhir tanpa kebencian.

Tamat

“Di balik kisah sedih, pasti ada masanya untuk senang.”
— M. Yasin