
Oleh ADIRA SANDRA DEWI ⏱️ Sabtu, 10 Januari 2026
“Seperti musim, hidup pun berganti, tidak ada yang selamanya beku, selalu ada harapan sehangat matahari”
Musim dingin di Desa Willowbrook sudah berlangsung terlalu lama, lima tahun tanpa setetes
pun hujan hangat atau bunga bermekaran. Salju menutupi atap rumah seperti selimut tebal
yang tak pernah tersingkap. Pohon-pohon berdiri pucat, rantingnya kaku dan rapuh seperti
tulang tua. Sungai membeku menjadi jalur es panjang, membelah desa yang sepi.
Orang-orang berjalan dengan kepala tertunduk, menghemat tenaga karena dingin menusuk
sampai ke tulang.
Di tengah desa itu, tinggal seorang gadis bernama Lira. Usianya 13 tahun. Memiliki kulit
putih seputih salju dengan pipi merona seperti strawberry dan kelopak mata biru bak
permata safir. Rambut coklat muda bergelombangnya, Ia biarkan tergerai. Ia tinggal
bersama kedua orang tua nya.
Di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu pohon oak, beberapa bagian sedikit
lapuk karena amukan badai salju dan hujan es yang melanda. Lira terbiasa mengumpulkan ranting kering dan mencari makanan di antara tumpukan salju. Tangannya kapalan, pipinya selalu merah karena angin, tapi hatinya tetap keras seperti batu, ia tahu, jika ia berhenti bergerak, ia akan menyerah seperti sebagian warga yang kehilangan harapan.
Sore hari, ketika badai salju mereda dan langit kelabu mulai memudar, Lira memutuskan
untuk membereskan loteng rumah. Tangannya meraba sebuah peti kayu kecil yang
terpendam di balik tumpukan kain perca tua. Peti itu berat dan tertutup debu tebal. “Sudah
berapa lama peti kecil ini ada disini” gumamnya. Bahkan kain perca tua pun tak sanggup
melindungi peti kecil itu dari hantaman debu. Ia membuka kunci peti yang sudah berkarat,
dan di dalamnya tergeletak sebuah jam pasir kuno. Benda itu berbeda dari jam pasir biasa.
Butiran pasirnya berwarna hijau lembut, berkilau seperti daun segar yang terkena embun
pagi. Bingkai kayunya diukir dengan gambar bunga yang belum pernah ia lihat, bunga
dengan kelopak melingkar seperti matahari kecil. Saat Lira menunjukkannya pada ibu, mata
nya membesar. “Itu… jam pasir legenda,” bisik ibunya, suaranya bergetar. “Dulu, para tetua
berkata bahwa jika jam itu di balik di Jantung Musim, vasanta akan kembali. Tapi tempat itu
kini terkubur di balik es, jauh di utara” lanjutnya seraya mengamati jam pasir kuno itu
lekat-lekat. “Apa jam pasir ini yang menjadi tanda musim salju yang terjadi 5 tahun
kebelakang ini..?” ucap Lira. Ibu nya melayangkan pandangan sekilas padanya.
“Jaga diri Lira dimanapun kamu berada ya nak” ujar ibu Lira, Ia mengusap surai halus putri
nya dan lanjut menyeduh 3 cangkir teh putih panas di atas nampan kecoklatan.
Lira menggenggam jam pasir itu erat. Ia lelah melihat desa membeku, anak-anak batuk
tanpa obat, dan orang-orang saling memalingkan wajah karena tak ada kabar baik yang bisa
dibagi.
Malam itu, ia memutuskan, ia akan menemukan Jantung Musim
Keesokan paginya, Lira mengenakan jaket tebal, syal, dan sepatu kulit. Ia membawa sedikit
roti kering, kantung air, dan jam pasir, yang disimpan dalam peti, itu disimpan rapat di dalam
kantung. Udara menggigit kulit, tapi ia melangkah tanpa ragu. Di luar desa, salju menebal
hingga menutupi sebagian betisnya. Pohon-pohon berderit, dan angin membawa serpihan
es yang menampar pipi. Saat ia melewati semak beku, seekor rubah putih muncul. Bulunya
seputih kapas, matanya berwarna hijau zamrud yang berkilau.
“Kau akan membeku jika terus berjalan sendiri,” terdengar suara dari rubah itu.
“Kau… kau bisa berbicara..?” tanya Lira sangat bingung.
“Aku Oxzora, roh musim semi” jawab rubah itu tenang. “Aku terkunci di dunia ini selama
musim dingin bertahan. Jika kau benar-benar ingin memanggil musim semi, aku akan
menuntunmu. Tapi perjalanan ini tidak mudah”.
Lira menatapnya lama, lalu mengangguk. “Aku sudah terbiasa dengan sulit. Tunjukkan
jalannya”.
Detik itu, mereka berjalan bersama. Oxzora tahu jalan yang aman, menghindari retakan es
yang bisa membuat Lira jatuh ke air membeku. Malam hari, rubah itu tidur di dekatnya,
bulunya memberi sedikit kehangatan. Sesekali, Oxzora bercerita tentang bunga yang
pernah tumbuh di Willowbrook, warna, aroma, bahkan suara lebah yang mengunjunginya.
Cerita-cerita itu seperti api kecil yang membuat hati Lira tetap hangat.
Suatu malam, saat mereka berhenti di bawah naungan tebing es, angin malam bertiup lebih
lembut dari biasanya. Lira duduk bersandar pada batu, tangannya menggenggam jam pasir
di pangkuan. Pasir hijaunya berkilau samar di bawah cahaya bintang.
“Kau yakin kita bisa melakukannya?” Lira akhirnya bertanya, suaranya hampir tenggela
oleh desir angin.
Oxzora menoleh, menatapnya dengan mata zamrud yang memantulkan bintang. “Aku sudah
melihat musim semi kembali berkali-kali, Lira. Tapi tak pernah ada manusia yang berjalan
sejauh ini untuk menjemputnya”.
“Kalau musim semi tak mau datang sendiri…” Lira menatap pasir di dalam kaca. “Maka aku
akan menjemputnya. Meski harus berjalan sampai kakiku tak sanggup lagi.”
Oxzora tersenyum kecil, tapi ada guratan kagum di wajahnya.
“Kau mengingatkanku pada awal mula musim semi. Hangatnya tak datang karena kuat, tapi karena tak pernah berhenti mencoba menembus dingin”.Lira mengernyitkan alis. “Musim semi… mencoba?”
“Ya,” jawab Oxzora menatap langit.
“Di balik salju dan es, biji-biji kecil berjuang memecah tanah beku. Mereka tak tahu apakah akan berhasil, tapi mereka tetap berusaha. Itulah mengapa bunga pertama selalu terasa paling indah, karena ia lahir dari perjuangan.”
Lira tertegun. “Kalau begitu aku ingin menjadi bunga pertama” ujarnya sambil tersenyum
menatap langit.
Oxzora terkekeh, suaranya seperti gemericik air yang menetes di musim semi. “Dan aku
akan memastikan kau mekar dengan indah” ucapnya dalam hati.
Malam itu mereka tertidur, hati mereka sedikit lebih hangat. Mereka tak tahu bahwa
keesokan harinya, perjalanan akan membawa mereka pada rintangan yang sebenarnya.
Hari ketiga, mereka tiba di dataran luas dikelilingi tebing es menjulang. Untuk melewatinya,
mereka harus berjalan di atas sungai beku yang penuh retakan. Angin di sana begitu
kencang, rasanya seperti tangan tak terlihat yang mendorong tubuh mereka ke arah jurang.
Di tengah perjalanan, kabut tebal turun. Dari dalam kabut itu, suara geraman terdengar, dan
makhluk bayangan musim dingin muncul. Tubuhnya besar seperti serigala, bulunya hitam
legam, matanya biru pucat seperti es. Nafasnya membeku di udara, dan setiap langkahnya
meninggalkan retakan panjang di es.
Makhluk itu mengincar jam pasir di kantung Lira. Oxzora melompat ke depannya, bulunya
berdiri, dan menggeram. “Pergilah! Musim semi bukan milikmu!”
Makhluk itu menerkam. Oxzora menghindar, memberi celah bagi Lira untuk berlari. Es di
bawah kakinya bergerak, retakan mengikuti langkahnya, namun ia terus bergerak sampai
kakinya menginjak tepian yang kokoh. Ox menyusul, napasnya memburu.
“Itu pelayan Ratu Musim Dingin,” ujar Oxzora. “Dia tidak akan berhenti sebelum jam pasir
itu hancur”.
Sejak itu, Lira berjalan lebih cepat, tapi rasa lapar dan dingin mulai menggerogotinya. Ia
hampir ingin menyerah. Namun setiap kali ia membuka kantung kulit dan melihat pasir hijau
yang tetap berkilau, hatinya kembali kuat. Ia ingin melihat warna itu memenuhi seluruh desa,
bukan hanya di dalam kaca.
Di hari ketujuh, setelah melewati hutan beku dan tebing licin, mereka tiba di lembah
tersembunyi. Lembah itu sedikit gelap dengan pencahayaan dari beberapa kunang-kunang.
Di sana berdiri taman membeku, pohon-pohon kristal es dan rumput yang kaku seperti
jarum kaca. Di tengahnya, sebuah altar batu berbentuk bunga berdiri, dihiasi pahatan sinar
matahari.Oxzora tersenyum tipis. “Inilah Jantung Musim. Letakkan jam pasir di altar itu, dan
musim akan bergerak kembali”. Lira mengangguk. Namun, sebelum Lira sempat melangkah,
angin berhenti mendadak. Dari kabut salju, sosok tinggi muncul. Ia adalah Ratu Musim
Dingin. Gaun perak menjuntai hingga tanah, kulit pucat, dan mata bak bulan purnama di
langit malam. Tatapannya tajam-setajam es pecah. Lira kaget dan hampir menjatuhkan jam
pasir itu. Ia menoleh ke arah Oxzora, mengisyaratkan apa yang harus Ia lakukan.
“Letakkan jam pasir itu, musim dingin adalah kekekalan. Musim semi hanya membawa
kelemahan” ucap Ratu Musim Dingin, suaranya dingin seperti besi.
Lira menggenggam jam pasir erat. “Orang tidak bisa hidup selamanya di dalam beku.
Mereka butuh hangat, butuh bunga, butuh harapan.”
Tatapan Ratu Musim Dingin menyipit. Angin badai berputar, salju menghantam wajah
Lira, hampir menjatuhkannya. Oxzora berdiri di depannya, tubuhnya bercahaya hijau. “Kau
tidak bisa menghentikan musim selamanya” Oxzora berteriak.
“Oh, jadi kau merasa seperti pahlawan musim sekarang?” cetus Ratu Musim Dingin seraya
mengangkat sebelah alis putih nya, Ia melangkah lebih maju mendekati Oxzora. “Aku
adalah Ratu Musim Dingin dengan kekuatan yang paling kuat diantara makhluk disini, lihat
musim dingin lima tahun kebelakang? Itu adalah Impian ku yang sekarang terjadi! Jadi..
dengan tubuh kecil mu itu, lebih baik berhentilah bermimpi bahwa musim semi akan
kembali” belum selesai Ratu Musim Dingin berceloteh, Lira mencelos menuju altar.
Dengan sisa tenaga, Lira menerobos angin, berlari menuju jam pasir berada, dan
meletakkan jam pasir hijau lalu membuang pecah jam pasir putih seputih es itu. Ratu Musim
Dingin terkejut bukan kepalang. Matanya membelalak, rahangnya mengeras, tangannya
mengepal sangat kuat. Butiran pasir hijau jatuh perlahan. Setiap butir yang menyentuh
dasar memancarkan cahaya lembut yang menyebar ke seluruh lembah. Pohon-pohon es
mulai meleleh, bunga-bunga bermekaran seketika, aroma segar memenuhi atmosfer.
Ratu Dingin menjerit, tubuhnya pecah menjadi kepingan salju yang terbang kabur bersama
angin. Oxzora berubah wujud, bulunya hilang, berganti gaun hijau panjang, rambut
keemasan nya yang lurus dihiasi bunga liar.
“Kau telah memanggilku kembali. Mulai sekarang, musim akan berganti sebagaimana
mestinya. Tidak ada satupun musim yang berkuasa selamanya” terangnya. Ia tersenyum
lembut. Menatap Lira dengan perasaan bangga.
Lira tersenyum lelah, tapi matanya berbinar. “Itu saja yang kubutuhkan” ujarnya seraya
merekahkan senyum yang lebar.
Perjalanan pulang terasa berbeda. Salju di jalan mencair, menyingkap rumput hijau dan
tanah basah. Sungai yang dulu membeku kini mengalir, memantulkan langit biru dan awan
awan yang bergandengan. Burung-burung kembali, suara kicauannya memenuhi udara
seperti kaset lagu yang telah lama hilang dari gramofon.
Saat tiba di desa, orang-orang tercengang melihat bunga liar tumbuh di tepi jalan.
Anak-anak berlarian di antara kelopak berwarna, tertawa tanpa takut kedinginan. Ibu Lira
duduk di beranda rumah, menutup mata menikmati sinar matahari. Musim semi musim kini
berganti wajar. Oxzoea kadang muncul di kejauhan, sekadar memastikan segalanya
seimbang. Dan Lira, meski tak memiliki kekuatan sihir, dikenal sebagai Penjaga Musim,
karena keberaniannya menjaga keseimbangan dunia.
Suatu sore, saat bunga-bunga mulai memenuhi tepi jalan, Lira duduk di beranda rumahnya.
Sinar matahari memantul di permukaan sungai yang kini mengalir bebas. Tiba-tiba,
bayangan putih melintas di halaman, Oxzora datang, dalam wujud rubah.
“Kau kembali?” tanya Lira girang.
Oxzora duduk di sampingnya, ekornya melilit rapi. “Musim semi sedang baik-baik saja,
berkat Penjaga Musim” tukas nya.
Lira menggeleng. “Aku hanya berjalan dan membalik jam pasir. Sisanya… musimlah yang
bekerja” sahutnya, Ia kemudian menyesap teh putih hangat nya seraya memandang
anak-anak kecil yang bermain di rerumputan yang hijau.
Oxzora menatapnya lama. “Tidak, Lira. Jam pasir hanyalah alat. Yang memanggil musim
semi adalah keberanianmu. Tanpa itu, pasir akan tetap terkurung di dalam kaca”.
Lira menunduk, menggenggam tangannya. “Jadi… semua ini terjadi karena aku tidak
menyerah?”
“Karena kau percaya bahwa sesuatu yang indah masih mungkin dan kepercayaan itu lebih
kuat dari badai mana pun” jawab Oxzora lembut. Angin membawa aroma bunga liar
melewati beranda. Lira menatap ke langit yang kini berwarna biru cerah. “Kalau begitu, aku janji… aku tidak akan lupa seperti apa rasanya menjemput musim semi” mata biru nya berbinar.
Oxzora tersenyum, lalu menghilang perlahan, meninggalkan Lira dengan hati yang penuh
hangat, hangat yang ia tahu akan selalu ia jaga, musim demi musim. Di dalam hati, Lira mengerti bahwa musim semi bukan hanya tentang bunga atau matahari, tapi tentang keberanian untuk melangkah di tengah badai. Ia sadar, setiap orang punya “musim dingin” sendiri, masa sulit yang tampak tak berakhir. Namun, seperti dirinya, siapa pun bisa menjadi Penjaga Musim bagi hidupnya sendiri. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah langkah pertama, dan keyakinan bahwa di balik salju yang tebal, ada bunga yang
sedang menunggu untuk mekar.
END