
Oleh Avrielia Dwi Cahyani ⏱️ Sabtu, 15 November 2025
Suasana sore setelah hujan terasa begitu syahdu. Rintik-rintik air masih turun pelan, menyisakan aroma khas yang menenangkan. Di koridor SMA Nusantara, Aluna berjalan seorang diri dengan langkah lemas. Di sekelilingnya, murid-murid lain berlarian sambil tertawa dan bercanda, namun Aluna hanya diam. Baginya, hari-hari di sekolah terasa seperti lukisan hitam putih (datang, duduk di kelas, mencatat pelajaran, mengerjakan tugas, lalu pulang). Begitu terus setiap hari. Ia merasa masa SMA nya tidak seberwarna teman-temannya yang penuh prestasi. Di kelas, ia bukan murid paling pintar. Di lapangan, ia bukan atlet unggulan. Ia jarang muncul di OSIS atau ekstrakurikuler. Ia merasa seperti batu kecil di pinggir jalan, ada, tapi hampir tak terlihat. Kadang, Aluna bertanya pada dirinya sendiri, “Kalau suatu hari aku pergi, apakah ada yang akan mengingatku?”
Hingga Aluna berjalan di koridor menemukan mading yang ada informasi “Lomba Karya Tulis & Poster Lingkungan Antar SMA se-Kota Kediri.” Ia berpikir apa ia mengikuti lomba tersebut saja ya.. ia tampak tertarik dengan lomba tersebut karena ia pikir sepertinya seru juga mengikuti lomba iti. “Apa aku coba saja ya, kapan lagi aku mengikuti lomba karya tulis, kalau enggak aku mulai dari sekarang kapan aku akan maju ya… “. Kemudian datanglah Bu Rika yang mendatangi Aluna dan bertanya kepada Aluna yang sedang kebingungan. “Kamu sepertinya tertarik ya Aluna, dengan lomba karya tulis tersebut.“ Kemudian Bu Rika menyakinkan Aluna agar segera mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba tersebut karena pendaftaran akan segera ditutup. Aluna berpikir bahwa ia yakin akan mendaftarkan diri walaupun ia belum pernah mengikuti lomba semacam itu. Kemudian mereka saling berpamitan dan pulang karena mengingat hari sudah sore.
Sesampainya di rumah, Aluna mulai membuat kerangka karya tulisnya. Ia membaca beberapa buku sebagai referensi dan merasa, ternyata menulis cukup seru membuatnya bertanya-tanya kenapa ia tidak mencoba dari dulu. Karena hari sudah malam, ia memutuskan melanjutkannya besok, bertepatan dengan hari libur.
Keesokan harinya, Aluna menulis di tepi sungai favoritnya. Ia memilih tema “Sungai Yang Menyimpan Cerita.” Sejak itu, hampir setiap sore ia kembali ke sana. Duduk di bangku dekat jembatan, ia mencatat apa pun yang dilihat dan didengarnya: warna air, suara dedaunan, aroma lembab, juga tawa anak-anak yang bermain. Namun, menulis tidak selalu mudah. Kadang ia menatap kertas kosong berjam-jam tanpa satu ide pun. Teman-temannya pun tak selalu mendukung.
“Serius amat, Al? Kayak mau nyelamatin dunia,” canda Melly.
“Siapa tahu jadi menteri lingkungan,” tambah Fajar sambil tertawa.
Aluna hanya tersenyum.
Pernah suatu malam ia hampir menyerah. Hujan deras, listrik mati, dan ia menulis ditemani sebatang lilin. “Untuk apa? Siapa yang peduli tulisanku?” batinnya. Tapi ia teringat ucapan Bu Rika saat mengoreksi drafnya:
“Tulisanmu punya hati, Al. Itu yang nggak semua orang punya.”
Kalimat itu seperti cahaya kecil yang membuatnya kembali membuka buku catatan.
Hari pengumpulan pun tiba. Aluna menyerahkan naskah dan poster sederhana bergambar anak-anak bermain di sungai jernih. Ia lega, tapi juga cemas. Ia tak berharap banyak karena ini pertama kalinya ia ikut lomba. Namun Bu Rika terus memberinya semangat agar percaya pada proses.
Beberapa hari kemudian, Aluna dan Bu Rika membuka pengumuman lomba secara daring. Jantungnya berdegup kencang, dan seketika terhenti sesaat saat melihat namanya. Juara 1. Ia dan Bu Rika saling menatap kaget.
“Selamat, Aluna! Ibu sudah bilang, kamu punya kemampuan. Tingkatkan lagi, ya,” ucap Bu Rika bangga.
“Terima kasih, Bu… Saya benar-benar tidak menyangka,” balas Aluna terharu.
Seminggu setelahnya, saat upacara hari Senin, nama Aluna kembali dipanggil.
“Juara 1 Lomba Karya Tulis & Poster Lingkungan se-Kota Kediri diraih oleh Aluna Putri, XI IPA 2!”
Seluruh lapangan bertepuk tangan. Kakinya bergetar saat melangkah ke depan, tetapi hatinya hangat tak terkira.
Sejak hari itu, banyak hal berubah. Ia diminta menulis untuk buletin sekolah, diundang berbicara di acara OSIS, dan guru-guru mulai mengenalnya. Bahkan posternya terpajang di balai desa.
Seorang bapak berkata, “Anak ini yang buat? Bagus, Nak. Warga jadi malu buang sampah sembarangan. Minggu depan kami mau gotong royong.”
Mata Aluna berkaca-kaca. Ia tak percaya sesuatu yang dulu ia anggap kecil bisa membawa perubahan.
Beberapa minggu kemudian, ia kembali duduk di tepi sungai yang kini lebih jernih. Angin sore menyapu pelan, dan cahaya matahari menari di permukaan air. Aluna tersenyum.
Ternyata, di balik seragam putih abu-abu, aku juga punya warna.
Dan warna itu… akhirnya terlihat.
—Selesai—