Large library with a person sitting at a table.
Large library with a person sitting at a table.

Ujian sekolah yang melelahkan telah usai. Bunyi bel pulang sekolah akhirnya terdengar. Seusai hari yang melelahkan ini aku memilih mendinginkan pikiran di kantin sekolah. Terlihat banyak siswa-siswi berlalu-lalang membeli makanan untuk mengisi perut kosong. Tak tahan dengan keramaian kantin sekolah, aku menghela napas. Aku akhirnya memilih pergi ke perpustakaan sekolah.

Perpustakaan terlihat lengang. Bu Evi, pustakawan sekolahku sibuk mendata buku-buku baru dengan komputernya. Aku beranjak pergi ke lorong yang menyimpan banyak persediaan novel. Tempat ini sering aku hampiri ketika waktu istirahat. Segera aku mengambil satu novel. Sudah hampir setengah jam aku membaca novel “Si Putih”. Series ini menjadi favoritku sejak kelas tujuh.

Di sela-sela asik membaca novel, telingaku mendengar suara seorang bernyanyi dengan alat musiknya. Kulihat jarum jam tangan menunjuk pukul lima sore, matahari tergelincir di ujung langit menghasilkan langit senja yang selalu cantik. Mataku terbelalak, sudah sangat terlambat untuk kembali pulang. Kulihat meja Bu Evi sudah tertata rapi. Lengang. Hanya menyisakan suara seseorang bernyanyi itu.

Rasa penasaran meminta kakiku melangkah ke arah suara itu. Nyanyian itu terdengar merdu menyapa telingaku. Mengapa masih ada orang di sini? Bukankah sekolah sudah ditutup jika sudah pukul empat sore? Sepertinya Pak Mamen lupa mengecek perpustakaan. Hampir sampai di ujung rak buku aku mengintip di sela-sela tumpukan buku. Seseorang dengan rambut hitam yang jatuh rapi, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata yang fokus pada senar gitar di tanganya. Jari-jarinya gesit memainkan senar, alunan musik yang dia nyanyikan menyapa halus telingaku.

Sinar matahari senja menyinari wajahnya, membuat rambutnya berkilau meninggalkan aura kharismatik yang manis. Dia terlihat asik menyanyikan lagu itu, memikat siapa saja yang melihatnya dengan penampilanya yang keren. Sekilas pupil matanya menatapku, pandanganku bertemu denganya. Aku tersentak, ketahuan sedang mengawasinya. Aku berbalik badan, hendak kembali ke tempatku.

Langkahku tiba-tiba tertahan, merasakan ada yang menarik kerah bajuku dari belakang. Kepalaku mendongak ke atas, otomatis membuatku berbalik badan kembali dan berhadapan dengan orang itu. Dari penampilanya, sepertinya aku bisa menebak dia adalah salah satu anggota ekskul musik.

“Siapa kamu? Apa yang sedang kamu lakukan?” Kaos hitam dengan kemeja seragam yang dibiarkan kancingnya terbuka. Bola mata coklat itu menatapku seolah-olah aku adalah si tikus pengganggu. Sepatu converse hitam putih yang terlukis oleh debu. Suara petikan jari membuyarkan pikiran aneh itu.  “Ditanyain, kenapa diam aja? Penguntit, ya? Atau terpesona dengan…”

“Dasar sok tahu, bukan itu.” Aku langsung membalas tak terima bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

“Lalu siapa kamu?” Orang itu menyilangkan tanganya sembari bahunya menyandar di sisi rak buku. Dia menatapku aneh. 

“Aku di sini sedari tadi hanya sedang membaca buku. Lalu tiba-tiba aku dengar suara seseorang sedang bernyanyi. Seharusnya aku yang bertanya padamu.” Aku membalas ketus sembari  menyilangkan tangan. 

“Jadi kamu penasaran siapa orang yang sedang bernyanyi itu?”

Entah kenapa kulihat raut wajahnya semakin terkesan sombong. “Iya, alasannya karena suara itu muncul begitu saja. Sedangkan, sedari tadi kulihat perpustakaan ini sudah sepi sejak pulang sekolah.”

“Oh…” Ia hanya mengangguk ringan sebagai balasan.

“Tapi aku sudah tahu asal suara itu.” Aku sudah membalasnya lagi. “Kamu kan yang bernyanyi sambil memainkan gitar hitam itu?” Aku menunjuk gitar yang tadi dia mainkan. Cukup banyak tempelan stiker disana. Menghias gitar keren itu.

“Sok tahu, tapi benar.” Dia pergi begitu saja mengambil gitar dan tas ransel yang sudah tergantung di bahunya. Kulihat dia melangkah menghampiriku. “Yasudah, aku Owl. Aku pergi duluan.” Usai dia menyebut namanya, entah mengapa aku merasa bingung dengan tingkahnya. Aneh.

Dia pergi, menghilang di balik pintu perpustakaan. Perpustakaan kembali lengang. Tersisa suara jarum jam dinding yang berputar. Apa yang kulakukan hari ini? Perasaaan apa ini? Entahlah. Aku cepat-cepat menghapus pikiran aneh ini. Segera aku mengambil totebag putihku dan mengembalikan novel yang tadi kupinjam. Aku meninggalkan ruang perpustakaan. Ingin segera kembali ke rumah dan esok hari aku akan menikmati libur akhir semester ini.