a man sitting on a window sill in the dark
a man sitting on a window sill in the dark

Gabriella Jayden Adhytama atau biasa dipanggil El adalah pemuda berusia 16 tahun. Kini ia telah memasuki masa remaja, waktu baginya untuk mencari jati diri serta pengalaman baru. El adalah pelajar yang  duduk di kelas sebelas SMA dan termasuk ke dalam jajaran siswa yang berprestasi. Namun, tanpa diketahui orang-orang, ternyata ia mengikuti suatu geng bernama Shadow Syndicate. Geng ini beranggotakan pelajar-pelajar remaja dan terkenal karena sering berkumpul dalam kegiatan yang menantang serta penuh risiko, seperti balap motor di jalanan. Tidak main-main, El tidak hanya menjadi anggota biasa, tetapi ia juga menjadi anggota inti dalam geng Shadow Syndicate. Geng ini adalah tempatnya melarikan diri dari kehidupan rumah yang terasa hampa. Papanya sibuk bekerja dan bahkan mamanya pun lebih fokus dan lebih sayang ke adik kecilnya sehingga El sering merasa seperti bayangan di rumahnya sendiri. 

Suatu malam yang lembab di musim penghujan, El dan anggota Shadow Syndicate lainnya berkumpul di markas, sebuah gudang kosong yang dindingnya dipenuhi coretan grafiti. Seperti biasa, anggota geng inti membawa minuman. Tetapi malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Haikal, salah satu anggota inti yang biasanya paling vokal menentang narkoba, justru membawa sebuah kresek hitam berisi permen-permen putih. 

“Ngapain, Kal, kamu bawa permen kesini? Tumben banget. Biasanya kan kamu anti banget sama permen-permen gini,” tanya Vian sambil tertawa geli, tangannya masih memegang botol bir setengah kosong. Lalu Haikal menjawab, “Coba aja, ini spesial.” Suara datarnya membuat bulu kuduk El berdiri. Salah satu teman El ada yang mengeluh mengantuk dan Haikal pun menawarkan permennya. Tanpa pikir panjang, temannya itu mengambil satu dan memakannya. El yang merasa aneh dengan permen yang dibawa Haikal memperhatikan dengan curiga, tetapi memilih untuk diam.  

Keesokan harinya pukul 06.45, El berpikir untuk ke markas gengnya karena ingin mengambil jaket kesayangannya yang ketinggalan.  Bau arak dan rokok masih menyengat di udara lembab gudang itu. Saat ia menyalakan lampu, dia melihat ada satu barang yang asing. Sesuatu di sudut membuatnya membeku. Sebuah suntikan bekas tergeletak di lantai berdebu, masih ada setetes cairan bening di ujungnya.

El yang penasaran akhirnya mendekati barang itu dan melihat Haikal dan teman-temannya yang lain seperti bergelagat aneh. El pikir mungkin mereka begitu karena minum-minum kemarin tetapi sepertinya tidak hanya karena itu. El pun bertanya kepada Haikal, “Kal, ngapain kamu disini? Diusir dari rumah lagi?”

Suara Haikal terdengar parau, matanya memerah dan pupilnya melebar tidak wajar. “El, lo tuh gak ngerti… ini satu-satunya cara biar gue gak merasa sendirian,” ujarnya sambil memegang suntikan itu dengan gemetar. El merasa dadanya sesak. Ia tahu bahwa Haikal sampai seperti ini karena orang tuanya terus bertengkar di rumah dan bahkan mereka lebih sering melampiaskan kemarahan kepadanya. Tapi El tidak menyangka semuanya akan sampai ke tahap ini.  

“Kal, itu narkoba! Lo tahu itu ilegal, kan? Bisa merusak hidup lo!!!!” El mencoba memperingatkan, tetapi Haikal hanya tertawa pahit.  

“Loh, lo pikir gue gak tahu? Tapi El, ini lebih baik daripada pulang ke rumah yang isinya cuma suara ribut sama barang pecah. Gue bener-bener capek, El.” El terdiam. Ia sendiri sebenarnya juga sering merasa tidak diinginkan. Papanya sibuk bekerja dan mamanya lebih sering menghabiskan waktu dengan adiknya yang masih kecil. Tetapi setidaknya, El tidak sampai senekat itu dan mencoba kabur dengan cara seperti ini.  

Keesokan harinya, El membolos sekolah. Ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dilihatnya di markas Shadow Syndicate. Geng yang dulu ia banggakan karena solidaritasnya, ternyata menyimpan rawa hitam di baliknya.  Saat ia berjalan sendirian di taman kota, ponselnya berdering. Muncul sebuah pesan dari mamanya, “El, kamu di mana? Papa khawatir.” El mengerutkan kening. ”Papa khawatir? Sejak kapan? Selama ini, Papa nggak peduli, bahkan nanyain kabar pun setahun cuma dua kali.” Tapi entah mengapa, pesan itu membuat dadanya berdesir.  

Malam itu, El memutuskan pulang lebih awal. Saat ia membuka pintu, ia melihat papanya duduk di sofa dengan wajah lelah. “El, kemana saja kamu? Kami mencarimu,” kata papanya, suaranya terdengar berat.  El ingin menjawab kasar, tetapi mengurungkan niatnya saat ia melihat ada bekas air mata di wajah papanya. Mamanya keluar dari kamar dengan mata sembab.  “Kami… kami cuma pengen kamu baik-baik saja,” bisik mamanya. El terkejut. Selama ini, ia pikir mereka tidak peduli. Tapi ternyata, mereka hanya tidak tahu cara menunjukkannya.    

Beberapa hari kemudian, El memutuskan untuk tidak kembali ke Shadow Syndicate. Ia tahu itu berbahaya. Tapi ketika ia mencoba memberi tahu Haikal, temannya itu malah memarahinya. “Jadi lo mau ninggalin kita gitu aja? Setelah semua yang kita lakuin bareng-bareng, El?” teriak Haikal, matanya penuh amarah.  “Gak gitu, Kal. Tapi ini salah. Aku gak mau ikut-ikutan pakai narkoba!”  Haikal mendekat, wajahnya dingin. “Kalau kamu pergi, jangan harap kamu bisa hidup tenang. Shadow Syndicate nggak akan biarin mantan anggota bocorin rahasia kita.”  El merasa ngeri, tapi ia tahu ia harus berani.  

Suatu malam, polisi menggerebek markas Shadow Syndicate. Beberapa anggota tertangkap, termasuk Haikal. Untungnya, El sudah benar-benar memutuskan untuk menjauh dan tidak ikut terjaring dengan hal buruk itu.  Ketika ia melihat berita itu di televisi, papanya duduk di sampingnya dan berkata, “Kami selalu sayang kamu, Nak. Kami cuma nggak tahu cara ngomongnya.” 

El akhirnya menangis. Ia sadar bahwa selama ini ia mencari kasih sayang di tempat yang salah.  “Aku tahu sekarang, Pa. Maaf.” Papanya memeluknya erat. Untuk pertama kalinya, El merasa ia akhirnya pulang ke rumah yang selama ini ia impikan.  

Setelah kejadian itu, Haikal akhirnya dikirim ke pusat pemulihan. El sering menjenguknya, meski awalnya Haikal masih marah. Tapi perlahan, ia mulai sadar bahwa ada orang yang masih peduli padanya. El dan keluarganya sendiri yang ternyata masih mau memberinya kesempatan. El pun belajar bahwa terkadang kasih sayang tidak selalu terucap. Tapi jika kita mau melihat lebih dalam, sebenarnya kasih sayang itu ada di sana, dalam perhatian kecil, dalam kehadiran yang tak pernah benar-benar pergi.  

“Aku nggak akan menghindar lagi.” El berjanji kepada dirinya sendiri. Kali ini, ia benar-benar memegang kata-katanya.

━TAMAT━