Oleh SYIFA FAUZIAH SAPUTRO⏱️ Sabtu, 17 Mei 2026
Ada beberapa hal berharga, namun tak terlihat oleh mata, kita melupakannya seiring hidup ini berjalan.
Malam yang pekat saat semua orang tertidur, ia berbicara padaku. Malam saat aku tak dapat tertidur, hanya ada suara detak jam dan dengungan dari kota. Semakin keras dan keras, di tengah banyaknya pilihan. Dan semua ketidakpastian, membuat bahuku terasa berat. Apa artinya menjadi dewasa, semuanya menjadi kabur.
Bentangkan sayapku seperti burung malam, di bawah cahaya bintang kota yang tertidur. Di tengah keheningan malam, aku melakukan penerbangan malamku sendiri. Itu semua adalah titik kecil, tapi semakin gelap malam semakin ia bersinar. Cahaya bintang yang tak tergoyahkan, mengapa saat ini tiba. Aku tahu, aku harus melepaskannya. Nama-nama emosi yang tidak pasti, alasan yang membuat tak bisa tidur lagi.
Segala jenis kegelapan di dunia ini, suatu hari nanti akan bersinar. Itu.. kata dirimu dahulu. Aku menatap kota kembali, sambil merenung tak ada arti. Lampu jalan yang berkedip-kedip, mereka seperti diriku yang entah mengapa meragu akan sesuatu.
Kekhawatiran seseorang yang tidak dikenal, mengingatkanku pada dirimu. Bertanya tanya, apakah kamu merasakan hal yang sama. Sayapku berkibar menuju bintang-bintang, aku berdoa agar mereka menemukan jalan menuju dirimu. Alasan aku tetap terjaga, adalah untuk bergerak menuju bintang bintang untuk bisa bersamamu.
Aku terbang seperti burung malam, di bawah cahaya kekhawatiran yang tak terhitung jumlahnya. Malam yang gemilang, penerbangan malam kita saat itu. Aku masih tak bisa tidur, tapi semakin gelap malam semakin terang ia bersinar. Cahaya bintang yang tak tergoyahkan, alasan aku tetap memikirkanmu. Karena aku yakin, kita pasti menatap bintang yang sama dalam kegelapan.
Pintu itu tiba-tiba terbuka, pintu yang mengurungku ibarat burung dalam sangkar. Pintu yang mencegahku, untuk pergi ke tempatmu. Aku tanpa ragu memasuki pintu itu, dan cahaya yang terang bersinar menyambutku setelah itu.
Aku berlarian di tempat yang tak ku ketahui, tempat yang asing dipenuhi benda-benda yang pernah kulihat dalam mimpi. Menuju jalan panjang yang ujungnya tak diketahui, aku berlari tanpa akhir yang pasti. Cahaya menyilaukan membuatku semakin frustasi. Dengan berbagai bayangan samar orang dan ingatan yang tak kukenali. Suara ombak pun terdengar lembut menyapa diri, yang anehnya membuatku semakin ingin melarikan diri dari semua hal gila ini.
Sesak memenuhi dadaku, membuatku sulit bernafas. Beberapa orang berlari menuju diriku, yang hanya bisa terdiam walau disenggol beberapa kali. Aku melarikan diri berkali-kali, hanya karena takut. Karena itu aku meninggalkanmu menunggu di garis start, di tempat kamu dan aku memulai semuanya. Kode morse di reruntuhan, menampilkan janji lama kita. Tidak tahu alasan air mataku turun, perasaan rinduku akan sesuatu.
Kau dan aku, di bawah janji berbintang. Di hadapan mahkota kita yang berdebu, aku terdiam menatapmu. Sekali lagi, seperti mimpi yang terukir di jiwaku. Jadilah keabadianku, sebut saja namaku. Aku ingat jawaban yang kutemukan, bahwa masa depanku adalah kamu. Katakan namaku, aku akan memelukmu erat seperti yang di janjikan di hari pertama kita bertemu. Seperti perasaan dejavu, kau seperti rasa aneh itu. Katakan, katakan, dan katakan lebih keras, bahwa aku adalah milikmu seorang.
Aku mulai ditarik oleh sesuatu, ketika aku melihat bayangan dirimu yang bersinar di hadapanku. Aku ditarik hingga terpental jauh, meski aku terus berusaha melawan untuk mengejarmu. Dan saat aku sadar, aku sendirian di tempat yang gelap, rumit, dan suram. Penuh teka teki, yang membingungkan. Aku mulai merenungi, apa yang harus kulakukan setelah ini.
Di tengah hujan membara yang membakarku, dalam perjalanan panjang dan abadi itu.
Kesedihan yang kita bagi adalah kejelasanku, bahwa semua itu hanya dengan air matamu. Bahkan saat aku jatuh, kaulah yang kubutuhkan. Di tengah reruntuhan, tempat janji kita disatukan.
Tanah peristirahatan, tempat keabadian. Di situlah kau menungguku, kembali bersama dirimu. Bus yang bergerak dengan tempat itu sebagai salah satu tujuan akhirnya, aku mulai berlari mengikutinya dengan bayangan dirimu di dalamnya.
Namun, tiba-tiba aku terbangun di sebuah tempat yang tak dikenali. Seolah-olah aku tadi berada di dunia mimpi, dan kau.. hanya sebuah bayangan bersinar yang tak benar benar ada di duniaku yang suram tak berarti. Di saat diriku sudah berhasil menggenggam saat itu, genggaman kita terlepas begitu saja. Aku mulai menangis sendirian, mengingat genggaman tangan kita yang terus berusaha ku pertahankan di akhir mimpi indahku yang terasa nyata.
Aku padahal pernah berjanji berulang kali, bahwa kamu adalah satu satunya masa depanku. Di balik tabir cahaya, aku akan memeluk dirimu yang bersinar dengan erat layaknya seorang pengantin yang kudambakan. Semua itu terlalu nyata bagiku, kita benar benar pernah bertemu. Atau.. apa ini hanya anganku yang tak akan pernah bisa menjadi sesuatu. Menggambarkan keinginan semuku, yang tak pernah memiliki seseorang di sisiku.
Aku mulai mencoba melarikan diri dari tempat diriku terbangun saat ini, lalu berlari menuju tempat yang kuyakini adalah tempat kita bertemu untuk pertama kali. Di sana aku memohon bahwa semua itu bukan mimpi, dan keberadaanmu bukan hanya sekadar fantasi.
Dengan putus asa, aku mulai menangis meraung-raung dengan perasaan tak adil. Mengingat hal-hal yang selama ini kuperjuangkan, di dunia itu. Aku mulai kehilangan harapan, saat mengingat wajah cantikmu yang kabur bagaikan debu.
“Tidak..!!! Tidak boleh..!! Kumohon.. Kumohon.. jangan biarkan bintangku hilang.. Aku sudah menuruti permintaanmu.., jadi tolong.. Tepati janjimu.. Jangan biarkan dia menghilang.. Bintangku..!!!”
Aku terus memohon dan memohon, dengan berbagai raungan kesedihan, luka, dan kerinduan yang menyiksaku. Sesak di dadaku dan tubuhku semakin memberat, aku hampir jatuh ke dalam kegelapan. Kau, tiba tiba muncul dan menggenggam tanganku yang sudah sangat bergetar. Dengan perasaan campur aduk, aku menatapmu dengan perasaan rindu.
“Kau.. cahaya ku..”
Kau menatapku balik, dengan nafasmu yang terengah-engah. “Aku mengingat semua, tentang dunia kita. Janji kita dahulu kala, tentang pengorbanan kita. Cinta kita, semua tentang kita berdua matahariku..” Kau mulai memeluk tubuhku pelan, dan menepuk kepalaku dengan lembut. Dengan berbagai perasaan campur aduk, antara senang, terharu, sekaligus lelah aku mulai memeluk balik cahayaku. “Bintangku, aku menemukanmu..”
“Kau sudah bekerja keras, Sun. Terima kasih.. sudah berjuang mencariku, tapi.. aku harus
pergi.. Kita tak mungkin bersatu, karena aku akan segera menghilang dari duniamu.”
“Tidak.. kau tidak boleh menghilang bintangku. Hidupku, tubuhku, nyawaku, semuanya hanya untuk dirimu. Aku rela jika harus menanggung rasa sakit yang kau pikul, asal kau tetap disini bersamaku. Berikan.. berikan semua rasa sakit itu kepadaku.. Jangan pergi.. Star..”
Aku benar benar putus asa, dan menangis sejadi jadinya, dirimu memang pernah mengatakannya. Bahwa dirimu, tak bisa menetap di dunia kita berada. Tapi aku tak bisa membiarkanmu menghilang, setelah menemukanmu dengan berbagai rintangan.
“Tapi.. aku juga tak bisa mengorbankan hidupmu, Matahariku.. Aku mencintaimu.. dibandingkan hidupku sendiri. Salah satu dari kita harus berkorban, demi dunia ini tetap aman.”
“Ucapanmu benar, Star. Maka dari itu, jika kau akan menghilang, maka aku juga ikut menghilang. Sebagai ganti, aku bisa menemukanmu saat ini.” Aku berucap dengan tenang, menggenggam tangan bintangku dengan senyuman.
“Apa maksudmu..? Kau tidak boleh menghilang..!! Aku sudah berkorban, agar kau terus hidup di dunia yang kau cintai ini..!! Kenapa kau egois, ak-“
“Aku tahu..!! Star.. aku tahu..!! Tapi.. aku juga tidak bisa hidup tanpamu.. Aku sudah melakukan kontrak dengan dia, untuk bisa menemukanmu.. Kini, tak ada yang perlu berkorban lagi, karena kita sama sama akan menghilang dan kembali, ke tempat asal kita bersama-sama.”
Kali ini, aku tak bisa membiarkan cahayaku menghilang tanpa diriku lagi. Kini, aku akan menyerahkan semuanya pada takdir dan harapanku agar Cahayaku akan selalu bersama diriku. Tubuh kami mulai bersinar, dan mahkota kami pun datang. Aku memeluk tubuh Star dengan erat, sesaat setelah itu pakaian kami berubah. Dari yang awalnya baju sederhana, kini berubah dengan baju lama yang tak kami sentuh berabad-abad lamanya.
“Lihat.. tubuhmu dan tubuhku mulai menghilang layaknya debu. Kini kita akan bersama selalu, dan aku.. telah menepati janjiku untuk selalu bersamamu walau kita akan menjadi satu. Ratuku..”
━TAMAT━