Warteg milik Bu Narti, warteg di ujung Gang Rinjani yang membuat seluruh orang penasaran, kenapa? Karena rumornya di sanalah para calon orang sukses berkumpul. Padahal menurut Bu Narti wartegnya hanya sebuah warteg biasa, yang setiap paginya terdengar kata, “sayur…sayur…” yang diselipi benang kusut yang dirajut dari mulut ke mulut ibu-ibu Gang Rinjani. Hingga klakson tukang kerupuk yang memecah riuh di warteg itu.

Bagi orang yang tak tahu warteg ini pasti berpikir itu hanyalah warteg bercat biru dengan etalase yang berisi semur jengkol, ayam goreng, telur dadar, dan aneka lauk pauk yang menggoda mata. Tetapi bagi orang yang tahu rumor tersebut, warteg itu pasto sudah seperti separuh halaman yang tak lepas dari hidupnya.

Rama seorang mahasiswa universitas TOP yang berusia 22 tahun, yang selalu datang dengan memesan secangkir teh hangat dan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya, tak lupa dengan ayam goreng kesukaannya. Ia selalu menyendiri dan menghadap laptopnya dengan serius hingga teh hangatnya dicicipi oleh semut-semut merah.

“Le.. kamu saya perhatikan kok selalu menatap laptop seserius itu? Kamu kerja ta le?” Tanya Bu Narti. Rama terkejut dan sedikit malu untuk menjawabnya, “enggak bu, saya mahasiswa semester 9, di Univ Mahakam..”

“Wah. Alhamdulillah mas berarti detik – detik skripsi ya..” balas Bu Narti dengan semangat. “lya bu.. doakan saya lancar ya” balas Rama, “Heeh mas, Aamiin” balas Bu Narti dengan penuh harap.

Tibalah seorang gadis cantik bernama Yaya, seorang “Alpha Girl” dan “Extrovert” yang tahan banting, tahan badai, hingga tahan bayar cicilan keluarganya. Ya benar Yaya anak perempuan pertama, yang hidupnya harus serba hemat dan menghidupi keluarganya, bukan karena orang tuanya ga sayang tapi karena merasa ini kewajiban anak pertama. Huft resiko people pleaser.

Bagi Yaya warteg bu Narti adalah tempat ia mengeluh, mengeluhkan kelakuan si HRD yang tampan tapi mematikan. “BU NARTI… bu aku gak kuat bu, si HRD ku berulah lagi aku disuruh buat ppt dalam 15 menit, dikira aku Timothy Ronald!?” ucap Yaya dengan penuh emosi. “Hoalah nduk.. sabar sabar, wes ayo makan sek, biar pikiran fresh. Terus Timothy Ronald iki sopo? Bu Narti gatau.” balas Bu Narti dengan sedikit penasaran. “Timothy itu lho Bu yang di tik tok, pokoknya itu deh. Yaudah deh Bu, anu aku mau telur dadar sama bakwan.” Timpa Yaya, sembari Bu Narti menyiapkan makan siangnya.

Warung di ujung gang itu penuh dengan percakapan kecil, keluh kesah, dan canda tawa dari tiap-tiap pengunjungnya. Ada Pak Kardi, guru SDN Rinjani 2 yang hampir pensiun, diikuti dengan Pak Andik mereka bagaikan dua kesatuan yang tak terpisah, ada Lastri tukang bersih-bersih di Gang Rinjani. Hingga Pak Kades yang paling sering ngopi di sini.

Siang itu cahaya matahari menerobos masuk ke dalam warteg Bu Narti, di sana terlihat Rama yang menunduk kesal, karena ia tak beranjak dari bab empat. Matanya sudah tak karuan lelah. la melihat cangkir tehnya sudah dingin, dan dikelilingi semut merah yang mondar-mandir seolah mengatakan “aku bebas melakukan apapun, tanpa harus berpikir keras.”

“Mas Rama, mau tempe ta? Mumpung anget-anget mas,” tanya Bu Narti, sembari membawa sepiring tempe yang aromanya semerbak dalam warteg itu. “Wah.. boleh” ujar Rama yang belum selesai. “BU TI, aku mau” balas Yaya, secepat kilat hingga Rama tak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Selang berapa hari…

Pelanggan setia Bu Narti tetap pada posisi semula, Rama duduk di ujung, Pak Kardi dan Pak Andik dan kopinya, dan Pak Kades yang memainkan gadgetnya sambil menyapa warganya yang berlalu lalang.

Lalu, datang Yaya dengan wajah lesu rambut yang sedikit acak acakan, dan tatapan tajam tapi penuh lelah. “Kenapa nduk? HRD mu lagi ta?” ucap Bu Narti. “HUHUHU.. Bu Ti lagi-lagi ga ngotak tugasnya, aku disuruh jadi panitia event kerjaan, tapi yang handle cuman aku sendirian Bu, terus harus selesai minggu ini proposalnya,” balas Yaya dengan penuh kesal.

Pak Kardi, yang sedang makan di pojokan bersama Pak Andik tersenyum mendengar keluhan itu. “Lha, Nduk, zaman Bapak dulu ngajar juga sering dapat tugas mendadak. Bedanya, muridnya cuma bisa dikasih PR menulis.” ucapnya, disambut tawa Pak Andik. Obrolan itu membuat suasana warteg kembali hangat. Semua orang, meski berbeda latar belakang, seperti punya bahasa yang sama.

Hari-hari berikutnya, Rama mulai sering mengobrol dengan Yaya. Kadang hanya sekadar saling menyapa, kadang membahas hal-hal remeh seperti siapa tukang kerupuk yang bunyinya paling kencang atau kenapa tempe goreng Bu Narti selalu terasa lebih renyah daripada di tempat lain.

Bu Narti diam-diam senang melihat anak-anak muda itu saling menyemangati, meski dengan cara mereka sendiri.

Suatu sore hujan turun deras. Warteg Bu Narti menjadi tempat berteduh beberapa orang yang kebetulan lewat. Di dalam, aroma kopi hitam bercampur dengan uap nasi hangat.

Pak Kades datang, menaruh payung lipat di pojokan. 

“Bu Narti, kopi biasa ya. Hujan-hujan gini nggak enak kalau nggak sambil ngopi.” 

“Siap, Pak,” jawab Bu Narti sambil menuangkan air panas ke gelas bening.

Percakapan sore itu melebar. Rama membicarakan topik penelitian skripsinya, Yaya bercerita tentang strategi acara kantornya, Pak Kardi dan Pak Andik nostalgia tentang murid-murid mereka yang nakal tapi menggemaskan. Pak Kades sesekali menyelipkan cerita pembangunan gang yang akan dilakukan bulan depan.

Hujan di hari itu entah kenapa seperti memang diutus untuk memberi rasa hangat di antara mereka, ditemani dengan secangkir teh dan kopi yang aromanya menusuk hidung, di tengah kedinginan yang melanda.

Bulan berganti.

Rama akhirnya sampai pada tahap revisi terakhir skripsinya. la memutuskan mengerjakannya di warteg, seperti biasa. “Doakan ya, Bu. Minggu depan sidang,” katanya sambil menahan gugup.

“InsyaAllah lulus, Mas. Yang penting tenang. Kalau gugup, ingat aja ayam goreng saya,” ujar Bu Narti, membuat semua orang tertawa.

Sementara itu, Yaya membawa kabar gembira. “Bu, acara kantor sukses besar! Atasanku sampai bilang aku siap naik jabatan. Gak nyangka, Bu, semua lelah ini ternyata ada hasilnya.”

Pak Kardi memberi selamat, “Bagus, Nduk. Ingat, kerja keras itu kayak menanam pohon. Awalnya capek, tapi lama-lama bisa berteduh di bawahnya.” Yaya tersenyum. “Siap, Pak.”

Hari sidang skripsi pun tiba. Rama datang ke warteg pagi-pagi dengan jas hitam rapi. “MasyaAllah, kayak mau lamaran aja,” goda bu Narti.

“Doain saya bu.” ujar Rama.

“Pasti mas, toh kemarin Yaya, Pak Andik, Pak Kardi, bahkan Pak Kades udah janji doain Mas Rama supaya lolos, sudah mas yakin aja bisa..” balas Bu Narti, sambil menyiapkan makanan kesukaan Rama.

“Hehe, siap Bu..” balas Rama.

Seminggu kemudian, Rama kembali. Kali ini wajahnya sumringah. “Bu, lulus Bu! Nilainya A!”

Sontak seluruh isi warteg berbahagia, sebuah kebetulan atau takdir para pelanggan setia Bu Narti itu sedang berkumpul di meja makan itu.

Yaya mengacungkan jempol. “Wah, berarti aku gak salah semangatin. Selamat, Mas!”

Pak Kardi menepuk pundaknya, 

“Ingat, Mas. Lulus itu awal, bukan akhir.”

Bu Narti menambahkan, “Yang penting jangan lupa makan di sini, meskipun nanti sudah kerja di gedung tinggi.”

Tahun berikutnya, Yaya benar-benar naik jabatan. Kesibukannya bertambah, tapi setiap minggu ia masih menyempatkan mampir ke warteg. “Bu, kalau gak makan di sini rasanya kayak ada yang kurang. Tempe gorengnya sama, tapi suasananya itu lho…”

Rama sudah bekerja di sebuah perusahaan teknologi. Setiap kali libur, ia datang untuk sekedar minum teh dan membuka laptop-kebiasaan lama yang susah hilang.

Pak Kardi resmi pensiun, tapi tetap datang setiap pagi bersama Pak Andik. Mereka berdua kini lebih sering mengobrol santai, membicarakan berita atau sekadar membahas cuaca.

Pak Kades masih rajin ngopi di pojokan, sambil memantau kabar warga.

Warteg Bu Narti menjadi saksi waktu. Meja-meja kayu yang mulai kusam, cat biru yang sedikit mengelupas, bau wangi nasi hangat yang selalu sama semuanya menyimpan cerita.

Mereka semua tahu, suatu hari mungkin keadaan akan berubah. Rama bisa pindah kota, Yaya mungkin akan semakin sibuk, bahkan Bu Narti mungkin akan mewariskan wartegnya pada anaknya. Tapi yang mereka yakin, kenangan tentang warteg di ujung Gang Rinjani tak akan pernah hilang.

Di sana mereka belajar bahwa tempat sederhana bisa menjadi rumah kedua bahwa tawa, keluh kesah, dan saling mendoakan adalah hal-hal kecil yang membuat hidup terasa penuh.

━TAMAT━