Hujan tak turun malam itu, tapi langit tampak seperti sedang menangis. Awan-awan kelabu menggantung lesu, menatap bumi dengan kemurungan yang sama seperti yang menghuni dada Kirana.

Langkahnya gontai menyusuri trotoar basah yang belum benar-benar kering sejak hujan siang tadi. Sepasang sandal datarnya bergesekan dengan kerikil kecil, meninggalkan jejak samar yang akan segera hilang tertelan angin. Pikirannya berulang-ulang memutar adegan yang baru saja terjadi di rumah—di ruang tamu yang telah menjadi saksi puluhan tawa dan ratusan amarah.

“Kita pisah aja, ya.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, seperti anak panah yang tak lagi bisa ditarik kembali. Kirana tahu, sepenuh hatinya menyesal. Tapi, ada sesuatu yang lebih kuat dari cinta—ego, harga diri, dan luka yang tak sempat sembuh sebelum dilukai kembali.

Adi, suaminya, hanya terdiam saat itu. Mata yang dulu hangat kini tampak asing, seperti sedang menatap orang yang tak lagi dikenalnya. Sepuluh tahun menikah, dan sekarang mereka berdiri di dua sisi jurang yang terlalu jauh untuk dijangkau hanya dengan kata “maaf.”

Mereka adalah kisah cinta SMA yang tak pernah diduga akan sampai sejauh itu. Di usia 17, cinta mereka seperti matahari yang tak pernah padam. Tapi, waktu terus berjalan. Cinta tak lagi cukup saat komunikasi menjadi perang, dan kompromi menjadi medan yang tak pernah mereka menangkan bersama.

Langkah Kirana terhenti ketika tubuhnya menabrak seseorang.

“Ah, maaf—”

Ia menunduk, dan terperangah. Di hadapannya, berdiri seorang gadis dengan seragam putih abu-abu. Rambutnya dikuncir kuda, wajahnya bersih, polos, penuh semangat yang hanya dimiliki oleh mereka yang belum mengenal pahitnya hidup.

Itu dia. Kirana. Tapi, dalam versi yang lebih muda—18 tahun lebih muda. Gadis itu menatapnya tanpa bingung, tanpa takut, seolah mereka telah saling mengenal seumur hidup.

“Ini… gak mungkin…” bisik Kirana.

Gadis itu tidak bicara, hanya tersenyum. Senyum yang dulu selalu ia kenakan di depan Adi, ketika mereka pertama kali bertemu. Ketika Adi, siswa pindahan dari kota lain, duduk di bangku belakang dan dengan canggung meminjam pensil milik Kirana. Awal dari segalanya.

Langit mendadak gelap, seperti ditelan waktu. Angin berhenti, dan hanya ada mereka berdua di ruang antara masa lalu dan masa depan.

Gadis itu mengulurkan tangan.

“Tolong lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, ya,” katanya lirih, tapi jelas.

Begitu Kirana menyentuh tangan gadis itu, semuanya berputar. Cahaya menyilaukan. Udara berubah. Ketika ia membuka mata, ia berdiri di depan cermin kecil di kamarnya yang dulu—di usia 17 tahun.

Masih remaja. Masih polos. Belum terluka.

Tubuhnya gemetar. Nafasnya tercekat. Semua ini nyata.

Ia membuka lemari dan melihat seragamnya tergantung rapi. Foto-foto keluarga masih tertempel di dinding. Tak ada kerutan di wajah. Tak ada luka di hati.

Seketika itu, ia menyadari bahwa hari ini adalah hari pertama ia bertemu dengan Adi.

Di sekolah, ia melihatnya. Adi. Seperti kenangan yang kembali hidup, Adi berdiri di depan kelas dengan ransel biru dan rambut yang sedikit berantakan. Senyumnya masih sama. Hangat. Menenangkan.

Dada Kirana berdesir. Tapi, ia ingat tujuannya.

Ia tak boleh jatuh cinta.

Ia menghindar. Tak menjawab sapa. Tak tertawa atas lelucon yang dilemparkan Adi dengan gugup. Ia bahkan pindah tempat duduk agar tidak dekat dengannya.

Namun, waktu adalah makhluk keras kepala. Dan cinta, rupanya, adalah benih yang tetap tumbuh, bahkan di tanah yang tandus.

Adi tetap mendekatinya. Membawa makanan kecil saat istirahat. Menulis surat dengan tangan sendiri. Menggambar sketsa wajah Kirana diam-diam di buku gambar.

Dan Kirana? Ia mulai goyah. Sebab cinta itu bukan hanya tentang keinginan, tapi juga tentang keberadaan yang tak bisa dihindari.

“Apa kamu nggak suka aku?” tanya Adi suatu sore.

Kirana menahan air mata. “Aku cuma nggak mau nyakitin kamu.”

Adi tertawa pelan. “Kalau kamu nggak suka aku, itu udah nyakitin aku.”

Waktu kembali bergulir. Tak peduli betapa kerasnya Kirana mencoba menjauh, mereka tetap jatuh cinta. Kembali menyatu. Seolah-olah semesta tak mengizinkan mereka berpisah, bahkan jika luka menanti di ujung jalan.

Tahun-tahun kembali berlalu, dan Kirana mendapati dirinya mengulang kehidupan. Menikah. Bahagia. Bertengkar. Menangis. Sama seperti dulu. Tapi, ada satu perbedaan.

Di pertengkaran mereka yang keseribu, ketika Adi berkata, “Apa kamu masih mau bertahan di pernikahan ini?” Kirana tak menjawab dengan marah. Ia tak berkata, “Pisah aja, ya.”

Sebaliknya, ia menggenggam tangan Adi.

“Aku ingin kita belajar kembali. Dari awal. Aku nggak mau kita kehilangan apa yang kita punya, meskipun kadang kita sama-sama nggak tahu cara menjaganya.”

Adi menatap Kirana, dan kali ini ia melihat wanita yang berbeda. Bukan Kirana yang penuh luka, tapi Kirana yang memilih untuk menyembuhkan. Bersama.

Malam itu, langit tetap gelap. Tapi, tidak lagi menangis. Angin membawa bau tanah yang lembab, dan jauh di sudut jalan, seorang gadis remaja berseragam putih abu-abu tersenyum.

Ia melihat ke arah jendela sebuah rumah yang terang. Di dalamnya, dua orang dewasa saling menatap. Ada tangis. Ada tawa. Tapi yang paling penting, ada harapan.

Gadis itu membalikkan badan dan berjalan pergi, suaranya menggema pelan di udara, “Aku tahu kamu bisa.”

━TAMAT━