
Oleh RIZKY IZZATI RAMADHANI ⏱️ Sabtu, 25 Oktober 2025
Langit merah, laut menjadi hitam, suara gaduh di mana-mana. Pagi ini terasa begitu sesak karena lapisan ozon kian hari makin menipis. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menapakkan kakiku di atas tanah yang gersang. Tanpa alas kaki, aku menapakkannya. Em, rasanya panas seperti yang kuharapkan. Memangnya apalagi yang bisa aku harapkan dari planet yang katanya mau hancur ini?
Ini adalah Abad Kekeringan. Abad ke-31. Abad yang sangat melelahkan dan meresahkan. Bumi sudah hampir kehilangan paru-parunya. Hutan sekarang sudah benar-benar minim keberadaannya. Kondisi ini nyaris tak bisa disebut kehidupan lagi. Sejak abad 30 akhir, hanya ada satu kelompok manusia yang tersisa. Kenapa? Di abad ke-30, kehidupan benar-benar riuh, hanya ada peperangan antarnegara. Perang yang benar-benar hebat. Bahkan hampir memusnahkan teknologi dan kehidupan seluruh makhluk hidup di Bumi. Hanya mereka yang beruntung yang selamat dan memiliki keturunan hingga sekarang. Kami hidup hanya di satu daerah, yaitu di Asia Timur. Saat ini, jumlah manusia benar-benar sedikit, hanya ada sekitar satu juta berdasarkan sensus penduduk, itu pun sensus satu tahun yang lalu.
Lalu, apa kabar mereka yang tinggal di Bumi saat ini? Sekarang saja seluruh manusia hampir meninggalkan Bumi dan pergi ke Eden-X, planet buatan yang baru lahir di dekat Mars. Dan Aku di sini adalah Li! Pemuda ceria yang penuh dengan ambisi dan tekad yang bulat untuk melindungi Bumi dari kepunahan. Aku memang berbeda dari yang lain. Di saat yang lain memilih untuk keluar, aku malah berlari ke dalam dengan penuh percaya diri. Sebenarnya, aku bingung dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Bumi ini sudah tidak layak huni dan bahkan ada yang sampai menjelek-jelekkan Bumi mereka sendiri. Padahal, kan, Bumi berubah menjadi seperti ini juga karena ulah mereka sendiri. Aku hanya orang yang penasaran dengan cara dunia bekerja. Rambutku ini keriting, kulitku putih pucat, iris mataku hijau seperti dedaunan yang hanya bisa kulihat di buku-buku tua panti asuhan.
Aku tumbuh tanpa tahu wajah ayah dan ibuku, hanya ada bayangan, cerita samar dari para pengasuh, dan keheningan malam yang panjang. Aku menghabiskan masa kecilku dalam ketidakpastian hingga aku diterima di sebuah organisasi bernama Ferrum ketika usiaku menginjak 15 tahun. Ferrum bukan sekadar tempat pelatihan. Mereka adalah penjaga terakhir Bumi, planet yang sekarat. Di situlah aku mulai menemukan tujuan dan masa depan. Namun, bukan hanya masa depan yang kutemukan di sana. Ada Shen, sahabat masa kecilku di panti asuhan, yang juga bergabung ke Ferrum pada waktu yang sama. Ia selalu menjadi yang terbaik, tidak hanya dalam nilai, tapi juga dalam strategi. Shen adalah tipe yang tenang, bahkan terkadang sulit ditebak. Tapi kami saling memahami, mungkin karena kami berbagi masa lalu yang sama atau mungkin karena kami berbagi sesuatu yang lebih besar?
Aether Core. Aether Core bukan benda biasa. Ia adalah serpihan energi purba yang berasal dari inti Bumi. Suatu energi yang bisa menghidupkan kembali planet ini, menjadikannya subur, penuh kehidupan, dan seimbang. Namun, hanya dua orang yang memilikinya secara alami, yaitu aku dan Shen. Kami tak tahu bagaimana atau mengapa, tapi keberadaan Aether Core dalam tubuh kami membuat kami istimewa, berbahaya, dan terikat satu sama lain.
Masalahnya, Shen menyimpan rahasia besar. Saat aku berjuang bersama anggota Ferrum lainnya, menyelamatkan wilayah-wilayah di sekitar Guangzhou, Shen perlahan menghilang dari kehidupan kami. Hingga pada sebuah misi penyelamatan kedua di Guangzhou, aku melihatnya kembali. Namun, bukan sebagai anggota Ferrum, melainkan sisi lain dari Shen yang kukenal.
Pertemuanku dengan Shen bukan reuni yang indah. Ia berdiri di hadapanku, dengan wajah dingin yang tak pernah kulihat sebelumnya. Namun saat mata kami bertemu, aku tahu bahwa ia masih Shen yang sama. Masih ada keraguan di sorot matanya. Aku yakin 100% ini bukan kemauannya untuk bertindak seperti ini.
Aku berdiri di persimpangan, menghadapi sahabatku yang kini menjadi lawanku. Panasnya pasir yang kuinjak tidak menjadi masalah utama di sini. Semua akan kuupayakan demi sahabat dan planet tersayangku. Kutatap irisnya yang merah menyala seolah penuh amarah yang menggebu-gebu. Apa yang telah membuatnya berubah menjadi seperti ini? Kalimat itu menghantuiku selama aku menatapnya.
“Shen, ini Aku. Kamu lupa?” aku bertanya sambil menahan air mataku.
Dia tidak menjawab sama sekali. Itu membuat hatiku terasa dicabik-cabik. Di tangannya, dia memegang sebuah keris. Keris itu punya energi dari para leluhur yang memang digunakan untuk mengambil Aether Core dari kedua tubuh. Aku menelan ludahku dalam-dalam. Tidak mungkin. Masalahnya, keris itu adalah pusaka legendaris milik orang Nusantara. Bagaimana bisa Shen mendapatkannnya? Jangan-jangan, saat misi penyelamatan di Guangzhou kala itu…? Ya ampun. Kepalaku rasanya mau meledak.
“Li, maafkan aku. Maaf aku menghilang selama bertahun-tahun. Semua itu kulakukan demi menjadi mata-mata Eden-X…” Suaranya memecah keheningan di hamparan pasir yang luas ini. Dia gemetaran dan suaranya terputus, lalu darah keluar dari mulutnya. Aku merasa begitu khawatir, aku pun segera berlari ke arahnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Mereka menargetkan Aether Core kita berdua. Tapi, Aether Core-ku mulai melemah karena sering berada dalam jarak yang jauh dengan Aether Core-mu. Satu-satunya jalan yang bisa kita lalui adalah…”
“Sst… jangan bicara seenaknya, pasti ada solusi yang lebih pas.”
“Tidak ada jalan lain selain mengorbankan penuh salah satu dari kita. Dan yang paling memungkinkan adalah aku. Aether Core-ku sudah lemah, sudah tidak sekuat dulu lagi. Milikmu itu, masih kuat.”
“Shen, berhenti bicara seperti itu. Kalau kamu pergi, aku juga pergi.”
“Tidak perlu, Li. Tanpa kamu sadari, kamu sudah mengorbankan hidupmu berkali-kali demi nyawaku dan nyawa orang lain. Percayalah, oke? Sekali ini saja, sebelum mereka datang.”
Aku menatap Shen dengan bingung dan bimbang. Aku tidak menunjukkan ekspresi setuju sama sekali. Namun, dia segera meraih keris itu, lalu menancapkannya ke tanah. Cahaya biru, merah, hijau, dan putih memancar dari dalam tanah, membentuk pola purba. Pola empat elemen. Ini menjadi tanda bahwa Bumi siap untuk masa regenerasinya.
“Shen…”
Aku menatapnya dengan sedih. Tapi, dia malah membalasnya dengan senyuman. Melihat senyuman sahabatku itu membuatku merasa bersalah. Aku telah berburuk sangka padanya. Padahal hatinya sebaik dan sebersih ini. Maafkan aku, Shen.
Demi keberlangsungan hidup, salah satu dari kami harus berkorban sepenuhnya, menjadi inti baru dari planet yang bangkit. Dan Shen mengambil keputusan itu sebelum aku sempat melarangnya.
Kini, Bumi mulai pulih. Perlahan, tetapi nyata. Eden-X, alias planet buatan itu mulai hilang kabarnya. Tanpa Aether Core, sistem penyangga Eden-X lumpuh. Tanpa penyangga, waktu adalah musuh mereka. Shen juga menghilang, menjadi bagian dari tanah yang subur dan udara yang kembali segar. Dan aku memilih untuk memutuskan hubungan dengan Aether Core milikku. Kini, Aether Core itu menjadi jembatan antara dua dunia. Manusia mulai menjaga sikap dan perilakunya terhadap alam. Tidak ada lagi pencemaran, penyimpangan, dan kerusakan.
Sahabatku itu, aku masih memanggil namanya kadang-kadang. Tapi aku tahu, ia ada di mana-mana. Di dedaunan yang tumbuh. Di angin yang berhembus. Di aliran sungai yang jernih. Sebab, Bumi hidup kembali dan itu karena dia. Mereka yang hebat adalah mereka yang berani berkorban, tapi mereka yang berani bersuara juga tak kalah hebatnya.