
Oleh ARAMINTA AZALIA ⏱️ Sabtu, 06 Desember 2025
Gadis itu membungkuk. “Maaf,” ujarnya. Ini sudah kedua kalinya aku melihat gadis itu
menolak pria yang melamarnya. ‘Padahal beberapa dari mereka cukup mapan,’ batinku. Kalau
aku tidak salah ingat, gadis itu adalah si ‘Kembang Desa’. Paras ayu, kulit sawo matang, surai
hitam legam, senyumnya pun manis. Tidak heran banyak lelaki yang ingin meminangnya. Tapi,
hampir semua ia tolak. Yah, mungkin gadis itu punya alasan khusus. Kita tidak boleh langsung
menghakimi, kan? Daripada berlama-lama disini, aku memutuskan untuk kembali ke rumah.
Ngomong-ngomong perkenalkan, aku Tejo. Aku adalah seekor ayam. Jangan kalian
samakan aku dengan ayam-ayam di luar sana, aku ini bukan ayam sembarangan. Aku adalah
seekor ayam jago yang amat gagah dengan bulu berwarna merah menyala. Setiap pagi aku
selalu membangunkan warga desa dengan kokokanku yang keras dan berwibawa. Selain itu,
aku cukup terkenal di kalangan ayam betina karena wajahku yang tampan.
Dikala senja mulai membalut cakrawala, Kadir, majikanku, baru akan kembali dari
sawah. Menyadari aku yang sejak tadi menantinya, Kadir dengan segera menghampiriku. Ia
mengelusku perlahan. “Tejo, ingin rasanya aku jadi orang kaya sejak lahir, jadi aku tidak perlu
bersusah-susah demi sesuap nasi,” keluh Kadir. “Kalau aku kaya mungkin sekarang kamu
tinggal di dalam sangkar emas, Tejo,” sambungnya. Setiap hari selalu saja begini. Kadir kembali
dari sawah, menghampiriku, dan kemudian mulai mengeluh soal beratnya kehidupan. Aku
sebagai ayam kan juga lelah mendengar ocehannya setiap hari?!
Aku dan Kadir berjalan kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, ia terus mengoceh.
“Tejo, aku sepertinya jatuh hati pada seseorang,” celetuk Kadir. Aku terhenti. Kadir suka pada
seorang perempuan?! Aku kira selama ini dia belok— lupakan. Kadir menyadari aku yang
berhenti. Ia lantas berjongkok, “Heh, Jangan tiba-tiba berhenti dong. Kesannya seperti kamu
sedang meledekku,” ucap Kadir kesal. ‘Memang,’. Kami melanjutkan perjalanan. Sesampainya
di rumah cahaya senja sudah redup, menyisakan gelap. Kadir memberiku nasi sisa tadi pagi.
Sejujurnya aku tidak suka rasanya, tapi daripada aku kelaparan? Padahal ayam jago milik Pak
Agus setiap hari diberi makanan khusus ayam.
Pagi ini, Kadir kembali bekerja di sawah. Sebagai seekor ayam, tentu aku tidak akan
diam saja di pekarangan rumah. Aku harus berkeliaran, memamerkan ketampananku. Di tengah
perjalanan, aku bertemu gadis itu lagi. Iya, si Kembang Desa. Lagi-lagi ia dilamar seseorang
dan lagi-lagi ia menolak. Sungguh, pemandangan yang memuakkan. Kuputuskan untuk tidak
memedulikanya. Namun, “Eh, kamu sedang tersesat? Bukannya kamu ayam milik.. Kadir?”
gadis itu mengangkatku. Dia mulai mengelus buluku berlahan, “Tenang, aku akan
mengantarkanmu kembali ke Kadir,” ucapnya.
Mendengar hal tersebut, aku langsung memberontak. Enak saja, jauh-jauh aku
menempuh perjalanan kemari, dan dia dengan seenaknya mengira aku tersesat dan bahkan ingin
membawaku kembali ke pemilikku. Sayangnya, semakin aku memberontak, semakin erat pula
gendongannya. Aku pun pasrah. Sepertinya rencana jalan-jalanku hari ini gagal.
“Selamat pagi, Salim,” “Pagi, Indah!” hampir setiap orang yang ditemui gadis ini selalu
dia sapa. ‘Ekstrovert sekali dia,’ batinku. Tak terasa, kami telah tiba di tempat Kadir sedang
beristirahat. Darimana dia tahu Kadir ada disini? Aku pun tak tahu. Padahal masih pagi, tetapi
si Kadir sudah kelelahan saja. Lemah. “Selamat pagi, Kadir,” ucap gadis itu. Kadir yang
awalnya sedang memejamkan mata, langsung terperanjat. Caping yang semula menutupi
wajahnya terjatuh. “Kampret, aku sedang istirahat— loh?” Kadir menghentikan kata-katanya.
Ujung jemarinya bergetar. “Ha-Hanan?” ucap Kadir. Kadir yang awalnya bersandar di pohon
langsung berdiri. “Tiba-tiba sekali mampir…,” ucap Kadir sambil mengusap tengkuknya.
K-A-S-M-A-R-A-N. Satu kata itu mewakili seluruh isi otak Kadir. Sekali lihat saja aku
langsung tahu. Kadir jatuh hati pada Hanan. Memang pengalamanku soal hal seperti ini tak
boleh dianggap remeh. Hanan tersenyum, “Aku melihat ayammu yang sepertinya tersesat. Jadi,
aku segera membawanya kemari, daripada nanti ia hilang, kan?” ujar Hanan. Seketika Kadir
menatap remeh ke arahku. Aku pun memalingkan wajahku ke arah lain. Sial, lama sekali dia
menatapku?! “Kadir?” suara Hanan membuyarkan lamunan Kadir. “Eh, iya?” balasnya. Hanan
menyerahkanku pada Kadir. “Warna ayammu cantik sekali. Jarang-jarang ada ayam dengan
warna merah secerah milikmu. Apa kamu memberinya nama?” tanya Hanan. “Iya, aku
memberinya nama Tejo,” balas Kadir sambil tersenyum kikuk.
Selang beberapa menit, Hanan akhirnnya pamit. Dan tepat setelah itu Kadir lompat-
lompat kegirangan. “Tejo! Kamu membawa keberuntungan! Ini pertama kalinya aku mengobrol
dengan Hanan,” girang Kadir. “Aku harus mulai mempertimbangkan siapa nama anak kita
nanti!” lanjutnya sambil tersenyum miring. Oh, dasar manusia kasmaran. Baru berbincang
sekali saja sudah memikirkan sampai jenjang pernikahan. Nanti kalau tidak jadi, duh, galaunya
seabad!
Tiba- tiba saja Kadir tersandung dan jatuh. ‘Mampus,’ batinku. Salahmu lompat-lompat
seperti orang gila. Daripada memperhatikan si Kadir yang kesakitan, aku memilih untuk
meninggalkannya. Aku lapar. Mending cari asupan. Aku mengamati sekitarku, siapa tahu tiba-
tiba ada steak Wagyu A5 di dihadapanku, kan? Tak lama mataku tertuju pada biji jagung yang
berserakan di tanah. ‘Yasudahlah, disyukuri saja. Daripada makan nasi sisa, kan? Mana nasi
itu seringkali sudah basi. Sehat-sehat lambung,’
Aku mengais-ngais biji jagung di tanah, menikmati santapanku dengan tenang.
Sementara itu, di belakangku terdengar suara Kadir yang masih mengerang kesakitan. Dasar
manusia ceroboh, selalu saja ada saja tingkahnya yang membuatku geleng-geleng kepala— eh
geleng-geleng jengger. Setelah puas mengisi perut, aku menoleh ke arah Kadir. Dia sedang
duduk di tanah sambil memeriksa lututnya yang tergores. Wajahnya masih berseri-seri, tidak
seperti orang yang baru saja jatuh. “Tejo,” panggilnya tiba-tiba. “Aku sangat yakin Hanan itu
jodohku,”. Aku mengangkat kepala, menatapnya jijik. Andaikan aku bisa bicara, aku pasti
sudah bilang, ‘Mas, baru ngobrol sekali aja udah mikir jodoh? Astaghfirullah.’
.
Tiba-tiba, suara langkah kaki membuat kami berdua menoleh. Dari arah timur, seorang
pria asing muncul dengan sebuket bunga di tangannya. Tingginya semampai, rambutnya tersisir
rapi, dan pakaiannya… terlihat lebih mbois dibanding Kadir. Bukan bermaksud merendahkan
orang yang selama ini memberiku makan, tapi memang kenyataan. Jika disandingkan dengan
pria itu, Kadir dengan kaos partainya pasti terlihat seperti gembel. Aku melirik Kadir yang
wajahnya seketika berubah tegang. “Itu… siapa?” bisik Kadir sambil berusaha berdiri.
Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Jamal, seorang pengusaha dari desa sebelah.
“Hanan, aku sudah lama mendengar tentang dirimu. Banyak orang di desaku yang memuji
keramahan dan kebaikan hatimu. Aku harap kita bisa lebih sering bertemu, atau malah
melanjutkan ke hubungan yang lebih serius,” katanya sambil tersenyum. Kadir, yang
mendengar itu, langsung menggenggam erat batang pohon. “Pengusaha sukses? Dia pasti punya
banyak uang. Bagaimana aku bisa bersaing?” keluhnya dengan suara berbisik. Aku hanya
memandang Kadir dengan penuh iba. ‘Oh, jadi ini definisi pewaris vs perintis..,’ batinku. Aku
mengulurkan sayap kananku untuk menepuk-nepuk betisnya perlahan.
Kadir menatapku dengan penuh harap, seolah aku, ayam peliharaannya, bisa
memberikan solusi atas masalah cintanya. “Tejo, kau benar. Aku tidak bisa menyerah begitu
saja. Kalau Jamal punya uang, aku harus punya sesuatu yang lebih dari itu!” katanya penuh
semangat. Aku mengernyitkan dahi. ‘Kapan coba aku bilang begitu? Tapi serius, apa
maksudnya? Apa dia akan mengganti mimpinya jadi punya ayam bersangkar berlian? Atau
malah aku akan punya rumah sendiri?’ pikirku. Tapi Kadir tampak serius. Dia berdiri tegap,
menatap ke arah rumah Hanan dengan mata penuh tekad. “Mulai besok, aku akan bekerja lebih
keras di sawah. Aku akan menabung. Kalau aku bisa beli sepetak tanah tambahan, aku bisa jadi
petani sukses. Hanan pasti oleng padaku,” ujarnya dengan percaya diri. Aku hanya bisa
memutar bola mata. ‘Tanah sepetak saja belagu, dasar orang banyak ngayal,’ batinku.
Namun, rencana Kadir berubah saat dia pulang ke rumah. Malam itu, saat dia sedang
makan nasi goreng sisa pagi, sebuah ide aneh terlintas di kepalanya. “Tejo, aku punya ide
brilian!” serunya. Aku meliriknya dengan setengah hati. Biasanya, ide brilian Kadir tidak
berakhir baik. Bukan biasanya sih, tapi selalu. “Aku akan membuat Hanan terkesan dengan
keterampilanku… bernyanyi!”. Aku melongo dibuatnya.
Keesokan harinya, Kadir membawa gitar usangnya ke sawah. Aku mengikutinya
dengan enggan, berharap rencana ini akan gagal sebelum mencapai ke tahap memalukan.
Ketika Kadir melihat Hanan sedang berjalan sendirian, dia langsung menghampirinya.“P-pagi
Hanan.. Boleh aku menyanyikan sebuah lagu untukmu?” tanya Kadir dengan senyum lebar.
Hanan terlihat terkejut, tetapi ia mengangguk sopan. “Tentu, silakan,” jawabnya. Tak heran dia
terkejut, aku kalau jadi Hanan pasti langsung lapor polisi. Kadir mulai memetik gitar, tetapi
suara senar yang putus membuat melodinya terdengar aneh. Dia mulai bernyanyi dengan suara
yang sumbang:
“Aku tak punya bunga ~
Aku tak punya harta~
Yang kupunya hanyalah hati yang setia~
Tulus padamu, Hanan~”
Hanan menutup mulutnya, mencoba menahan tawa. Aku yang berdiri di dekat kaki
Kadir langsung mengubur wajahku di tanah. ‘Memalukan,’ batinku. Ketika lagu berakhir,
Hanan bertepuk tangan kecil sambil tersenyum. “Itu… kreatif sekali, Kadir,” katanya. Kadir
terlihat berbinar-binar, seolah dia baru saja memenangkan penghargaan Indonesian Idol.
Namun, dari kejauhan, aku melihat Jamal datang lagi dengan membawa kotak makanan. Dia
menyapa Hanan dengan ramah, lalu memberikan kotak itu padanya. “Ibuku membuat kue
kering dan dia ingin kamu mencicipinya, Hanan. Semoga sesuai dengan seleramu, ya,” katanya.
Kadir seketika murung, sementara aku hanya bisa mendesah panjang. ‘Jalanmu masih panjang.
Semangat ya,’ batinku sambil menepuk-nepuk betisnya lagi.
Wajah Kadir berubah suram, penuh dengan kekalahan. Aku, sebagai ayam yang setia
menemani, hanya bisa memiringkan kepala sambil menatapnya iba. “Kue buatan ibunya? Kok
bisa kepikiran sih?” Kadir menggerutu sambil memandangi gitarnya yang cacat. “Tejo, aku ini
kalah segalanya. Suara sumbang, wajah jelek, miskin pula. Aku ini apa dibanding Jamal?”.
“Tejo, apa aku harus menyerah saja?” tanyanya sambil menatapku. Aku hanya menatapnya
balik, karena jelas-jelas aku tidak bisa menjawab. Apa tidak terkejut dia kalau aku tiba-tiba
ceramah?
Namun, sebelum Kadir semakin depresi, suara lembut terdengar. “Kadir?”. Kami
berdua menoleh bersamaan, dan di sana berdiri Hanan, membawa kotak kue tadi di tangannya.
Mata Kadir membulat. “Eh… iya, Hanan?” jawab Kadir, berusaha terdengar santai meskipun
suaranya sedikit gemetar. “Aku… mau bilang terima kasih untuk lagunya tadi,” kata Hanan
sambil tersenyum. “Itu lucu, dan aku suka caramu menyampaikan perasaanmu.”
Kadir terdiam. Matanya berbinar seperti baru saja diberi kabar bahwa ia memenangkan
tiket liburan gratis. “Kamu… suka lagunya?” tanyanya, memastikan. Hanan mengangguk.
“Oh— Jamal tadi memberiku kue ini, tapi… aku merasa ini terlalu banyak kalau kumakan
seorang diri. Jadi, aku pikir mungkin kamu mau mencicipinya,” ujarnya sambil menyerahkan
kotak itu pada Kadir.
Kadir menatap kotak kue itu seperti menatap berlian. “Serius, Hanan?” tanyanya penuh
harap. “Iya. Kamu terlihat lelah. Mungkin ini bisa jadi camilan untuk menemani istirahatmu,”
jawab Hanan sambil tersenyum. Tak lama, Hanan pamit.
“Tejo, ini tanda! Dia peduli padaku!” seru Kadir penuh semangat.
Aku menghela napas panjang. ‘Dasar, Ini cuma kue, bukan janji menikah,’ batinku. Tapi
melihat wajah Kadir yang kembali bersinar, aku merasa tidak tega merusak momen ini. Hari
itu, Kadir kembali bekerja dengan semangat baru, sementara aku hanya bisa mengikuti dari
belakang, berharap dia tidak terlalu sering membicarakan nama anaknya di masa depan. Ah,
dasar manusia. Aku jadi ingin merasakannya lagi.